Motivasi

My Diary: Edisi Banjarnegara-Wonosobo-Dieng, 29-30 Agustus 2014

Posted on Updated on

Semangat pagi ceria …^_^…

DSC03251

Bekerja merupakan salah satu tugas kita sebagai manusia bertaqwa yang harus diniatkan ibadah, dan sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk sesama. Akan dikenang sebagai apakah kita saat kita tiada?! Hal tersebut adalah hasil upaya kita dalam menorehkan tinta emas kehidupan, yang hanya sebentar dan sekali saja di dunia. Bukankah satu hari di kehidupan nanti bagaikan 1000 tahun kehidupan di dunia?!

Dalam kesibukan sebagai insan pekerja, momen-momen untuk kontemplasi memang diperlukan. Ya, ibarat perjalan jauh yang memerlukan istirahat, untuk memulihkan tenaga, semangat dan pikiran. Hal inilah yang kira-kira mendasari Poltekkes Surakarta untuk mengadakan outbond, character building dan gathering, selama 2 hari di Banjarnegara-Wonosobo-Dieng, 29-30 Agustus 2014, yang diikuti oleh seluruh dosen dan karyawan baik tanaga PNS maupun BLU (jurusan: keperawatan, terapi wicara, akupunktur, fisioterapi, okupasi terapi, ortotik prostetik, kebidanan dan jamu).

Saya pribadi merasa lebih termotivasi setelah mengikuti kegiatan ini, walaupun memang lelah, ya… tapi saya menikmatinya. Terima kasih kepada bapak Ade Rizal dan tim yang telah mengingatkan kami, saya terutama, tentang konsep hidup.

Sebagai individu yang merupakan gabungan unsur bio-psiko-sosio-kultural-spiritual, hendaknya dapat menjalani segala peran dalam hidup secara seimbang. Ya, memang kebahagiaan dunia-akhirat seyogyanya dapat kita raih. Bagaimana membuat keseimbangan antara porsi untuk spiritualitas, kesehatan, keluarga, karier, dan sosial?! kembali lagi, niatkan semua peran yang kita jalani adalah untuk beribadah kepada Allah SWT.

Dan, terima kasih untuk quote-nya bapak… ‘Belajar menanggapi, bukan bereaksi, terhadap situasi hidup’. Akan saya terapkan. Memang segala bentuk aktivitas/kebiasaan baik yang baru perlu repetisi yang konsisten, sehingga akan terbentuk kebiasaan baru untuk membentuk karakter baru yang lebih baik. Belajar dari manapun, kapanpun, dan sepanjang hidup. Tetap optimis dan idealis, namun realistis. Semangat ceria ….. ^_^

Outbond di Banjarnegara

Narsis dulu di lobby hotel Krishna

Saatnya mengikuti Character Building

Karawitan dulu yuks…….

Menunggu jemputan menuju Dieng di Wonosobo

DSC03199

Siap-siap ke Dieng

DSC03195

Indahnya view gn.Sindoro

Jalanan menanjaaak ……

Selamat datang di Kawasan Dieng Plateu

Sejuknya Telaga Warna

DSC03218

DSC03230

DSC03237

DSC03239

Mengintip keindahan Telaga Warna di balik pepohonan…

@ Kawah Sikidang

???????????????????????????????

DSC03315

Berani naik ini, lalu ke puncak ?!

DSC03269

DSC03310

#Berimajinasi…… Kira-kira membentuk apakah batu ini?!

DSC03270

Merebus telur yuks……. di kawah telur rebus….

DSC03275

DSC03279

Si Biru Bertopeng dengan kudanya…… apakah dia ksatria berkuda?!…… ^_^

DSC03319

Kira-kira, kuda ini jantan atau betina yak ?!……. @_@

DSC03321

@Kota Wonosobo Asri

DSC03346

DSC03343

Terima kasih telah berkunjung …… ^_^ …….

Text&Pics by: Oshigita.

Iklan

Are You ‘KEPO’ Enough ?!

Posted on Updated on

Pasti teman-teman sering dengar kata ‘KEPO’ kan ? Tapi sudah tahu belum apa itu ‘KEPO’ ? Nah, kalau belum tahu, biar saya beri tahu… ‘KEPO’ itu singkatan berbahasa Inggris : Knowing Every Particular Object, atau kalo arti bahasa hokiannya (bahasa gaul gitu….): orang yang selalu ingin tahu setiap urusan khusus orang lain. Menurut saya arti ‘KEPO’ dari asal muasalnya (bahasa hokian) lebih berkonotasi negatif. Misal: seorang pasangan yang selalu curiga dengan pasangannya, kemana-mana selalu ditanya/diinterogasi, pasti dibilang: “ah, KEPO baget si lu?”. Bisa juga seorang teman yang selalu ingin tahu urusan temannya, katakanlah si A, tanya si B tentang urusan si C, mengenai bagaimana hubungan si C dengan si Z, juga dijuluki “si KEPO”. Bisa juga orang yang sukanya stalking sos-med nya orang lain yang masuk dalam daftar targetnya…. Heheeee……. Siapa hayo ?! itu juga disebut KEPO, dan masih banyak lagi. Intinya istilah ‘KEPO’ berkonotasi negatif.

Pertanyaannya, boleh tidak sih kita memiliki sifat ‘KEPO’ ?

Kepo1

Menurut pandangan saya, ‘KEPO’ itu tidak selalu berkonotasi negatif, bisa juga berkonotasi positif, misal kita ‘KEPO’ tentang sesuatu yang bersifat ilmiah atau mengandung unsur pengetahuan? Nah, seperti Thomas Alfa Edison yang menemukan bola lampu dan penemuan-penemuan lain yang sangat berguna? Bukannya beliau itu ‘KEPO’ banget ya? Ribuan kali melakukan percobaan, tidak pantang menyerah, sampai menemukan penemuan luar biasa, kalau tidak ‘KEPO’ mana mungkin ? Ada juga yang sangat terkenal Albert Einstein, dengan teori relativitasnya. Ke-‘KEPO’-annya terhadap model dan alat mekanik membuat beliau menjadi salah satu ilmuwan yang paling berpengaruh terhadap bidang science abad ini, bahkan majalah Time menganugerahkan beliau sebagai “tokoh abad ini” pada tahun 1999. Walaupun sempat dianggap sebagai pelajar yang lambat (dikisahkan bahwa beliau menderita dyslexia/kesulitan membedakan huruf), namun keseriusannya terhadap hobinya tersebut membuahkan hasil. Dua kisah tersebut, merupakan penemuan yang saya rasa semua orang tahu, dan dapat menjadi contoh bahwa sesuatu yang luar biasa bermula dari rasa keingintahuan (KEPO).

Pada bidang saya (kebidanan) juga banyak ditemukan “penemuan-penemuan” ilmiah yang sangat membantu dalam pelaksanaan pelayanan kebidanan. Salah satu yang ingin saya share, adalah penemuan dari bidan yang luar biasa, bunda Mugi Rahayu, seorang bidan yang menjalankan praktek mandiri di Jogjakarta. Ke-‘KEPO’-annya akan metode persalinan yang islami dan ayat-ayat dalam QS. Maryam, menghantarkan beliau untuk mengembangkan “Persalinan Maryam “. Konsep persalinan ini merupakan konsep persalinan yang baru, dan hal ini dapat disebut sebagai suatu ‘invention’. Saya pribadi memberikan apresiasi yang luar biasa kepada beliau.

Poin/pelajaran yang ingin saya share dari apa yang saya tulis adalah tentang ‘keingintahuan’ dan ‘ketertarikan’. Bahwa setiap keberhasilan dimulai dari dua hal ini, juga didukung oleh niat atau kemauan. Niat Anda berapa karat ? 24 karat, 20 karat, 16 karat, atau tidak berkarat sama sekali…. Heheeeee….. Poin selanjutnya adalah: ambillah sisi positif dari setiap hal yang terjadi yang nampak sebagai sesuatu hal yang negatif. Dan poin terakhir adalah bahwa setiap orang dilahirkan ‘dengan sebab’, yang maksudnya adalah tidak ada seorangpun yang dilahirkan dengan sia-sia. Tugas manusia adalah menjadi khalifah di muka bumi, yang mempunyai kontribusi positif bagi agama, bangsa dan negaranya. Jadi, pada setiap kekurangan atau kelemahan pasti ada kelebihan yang luar biasa. Positif thinking, maju terus, tetap berusaha.

Keberhasilan merupakan hasil dari proses panjang, katakanlah secara kuantitatif ada pada angka 1000. Bilangan 1-999 adalah langkah panjang yang harus dilalui untuk mencapai angka tersebut. Jadi, jangan pernah menyerah apapun kondisi yang harus dilalui. Ingat filosofi batu yang bisa berlubang hanya karena ditetesi air ? Siapapun kita, apapun latar belakang keluarga dan pendidikan kita, asal punya minat dan niat yang “full’, inshaaAllah cita-cita atau mimpi kita akan terwujud dan barokah, aamiin. So, stay positive, be confident, and get success.

Now, are you ‘KEPO’ enough for something that whispering your soul ?

(By. Oshigita Sweet ^_^)

 

# Kata-kata bijak dari Thomas Alfa Edison:
1. Jenius adalah 1% inspirasi dan 99% keringat. Tidak ada yang dapat menggantikan kerja keras.
2. Keberuntungan adalah sesuatu yang terjadi ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan.
3. Saya tidak patah semangat, karena setiap usaha yang salah adalah satu langkah maju.