Bulan: April 2014

Ptialism (Peningkatan Salivasi/Hipersalivasi) pada Ibu Hamil

Posted on

Oleh: Gita Kostania

Peningkatan salivasi merupakan suatu kondisi yang tidak biasa yang disebabkan oleh peningkatan keasaman pada mulut dan atau peningkatan enzyme ptyalin, serta peningkatan stimulasi kelenjar air ludah, sehingga meningkatkan sekresi air ludah yang berlebih. Penyebab hipersalivasi belum diketahui secara pasti, diduga terjadi karena adanya perubahan hormonal. Wanita hamil yang mengalami hipersalivasi, biasanya juga mengalami gejala mual-muntah. Kondisi ini merupakan suatu hal yang saling berhubungan, tidak hanya peningkatan salivasi yang intensif menyebabkan mual-muntah, tetapi juga keinginan ibu dalam menghindari mual-muntah dapat menyebabkan ibu hamil menelan sedikit air ludah, sehingga meningkatkan volume/produksi saliva dalam mulut. Pada ibu hamil yang mengalami mual-muntah, setiap kali menelan air liur maka akan membilas kerongkongannya dan membantu menetralisir asam lambung. Oleh karena itu hal ini dapat dianggap suatu hal yang fiiologis.

Untuk mengurangi gejala hipersalivasi diantaranya adalah: bersihkan mulut menggunakan sikat gigi yang lembut dengan pasta gigi yang sesuai, dan gunakan penyegar mulut beberapa kali sehari; konsumsi makanan dengan gizi seimbang, dan hindari makanan yang banyak mengandung tepung; perbanyak minum (sering minum walaupun sedikit- sedikit); serta mengulum sebutir permen atau mengunyah permen karet tanpa gula. Mengulum/mengunyah permen tidak langsung membuat produksi saliva menjadi berkurang, tetapi hal ini akan membuat ibu menelan saliva. Hindari permen asam atau permen karet manis, karena akan semakin menstimulasi produksi saliva. Akan lebih baik apabila ibu hamil menelan saliva yang berlebihan. Tetapi kalau hal ini justru membuat ibu menjadi mual, sebaiknya sarankan ibu cari alternatif tempat seperti tissue, handuk waslap, atau gelas/cangkir untuk meludah. Tekankan pada ibu agar minum air putih yang banyak sehingga tidak dehidrasi.

Bagi kebanyakan ibu hamil, masalah hipersalivasi ini dapat berkurang dan hilang dengan sendirinya seiring dengan meredanya rasa mual sekitar akhir trimester pertama. Tetapi bagi sebagian kecil ibu hamil, masalah ini sama halnya dengan mual-muntah (emesis) yang dapat berlangsung sampai akhir masa kehamilan.

Referensi:

  1. Bobak, Lowdermilk, Jensen (Alih bahasa: Wijayarini, Anugerah). 2005. Buku Ajar Keperawatan Maternitas, edisi 4. EGC, Jakarta.
  2. Fraser, Cooper (Alih bahasa: Rahayu, et.al.). 2009. Myles, Buku Ajar Bidan, edisi 14. EGC, Jakarta.
  3. Varney. 1997. Varney’s Midwifery, 3rd Edition. Jones and Bartlett Publishers, London UK.
  4. Varney, Kriebs, Gegor. 2002. Buku Ajar Asuhan Kebidanan, Edisi 4, Volume 1. EGC, Jakarta.

 

Posting terkait:

1. Ptyalism Gravidarum, Pubmed

2. Gestosis of Early Terms of Pregnancyhttp://intranet.tdmu.edu.ua/

 

 

Ketidaknyamanan Selama Kehamilan dan Antisipasinya Sesuai Kebutuhan

Posted on Updated on

Oleh: Gita Kostania

Ketidaknyamanan-pada-ibu-hamil

Bagi seorang wanita, kehamilan merupakan suatu pengalaman yang unik. Tiap wanita mempunyai pengalaman kehamilan berbeda-beda, yang dapat dipengaruhi oleh kehamilan sebelumnya, lingkungan dan aktivitas. Sebagian wanita hamil, mempunyai pengalaman akan gangguan ketidaknyamanan selama hamil. Gangguan ini dapat menjadi pengalaman berharga bagi ibu hamil dan menjadi acuan bagaimana menghadapi kehamilannya. Gangguan ketidaknyamanan selama hamil dapat dipengaruhi oleh faktor fisik terkait perubahan anatomi, dan faktor psikologis. Pada umumnya gangguan ini bersifat fisiologis, namun dapat berubah menjadi patologis apabila tidak diatasi dengan tepat. Diagnosis yang tepat terkait gangguan ketidaknyamanan kehamilan dan penyebabnya penting dilakukan untuk penatalaksanaan yang tepat. Masing-masing wanita dapat diberikan treatment yang berbeda dengan kasus yang sama, untuk itu dibutuhkan pengetahuan dan pemahaman yang menyeluruh dari bidan agar dapat membantu ibu dalam mengatasi gangguan dan ketidaknyamanan selama kehamilan. Komunikasi yang efektif antara ibu hamil dan bidan merupakan kunci utama dalam penatalaksanaan gangguan ketidaknyamanan selama hamil, melalui konseling atau pemberian pendidikan kesehatan selama melakukan asuhan antenatal. Beberapa gangguan ketidaknyamanan selama hamil, dan cara mengatasinya:

  1. Mual dan Muntah
  2. Mengidam (Pica) –>  Mengidam merupakan suatu keadaan yang berkaitan dengan kondisi psikologis ibu hamil. Umumnya dialami oleh ibu hamil primi. Banyak mitos yang beredar terkait mengidam, namun hal itu tidak terbukti secara ilmiah. Untuk itu penting bagi bidan untuk memberikan pendidikan kesehatan yang tepat. Jelaskan pada ibu dan keluarga bahwa hal tersebut tidak perlu dikhawatirkan selama asupan nutrisi memenuhi kebutuhannya. Jelaskan pula tentang bahaya makanan yang tidak bisa diterima, mencakup gizi yang diperlukan serta memuaskan rasa mengidam atau kesukaan menurut budayanya.
  3. Ptialism (Peningkatan Salivasi/Hipersalivasi)
  4. Heartburn (Panas Perut)
  5. Fatigue (Kelelahan/Keletihan) –>  Kelelahanyang dirasakan oleh ibu hamil dapat terjadi selama trimester pertama dengan sebab yang belum diketahui secara pasti. Namun hal ini kemungkinan dapat disebabkan oleh keadaan psikologis ibu hamil, perubahan hormonal dan proses organogenesis. Faktor tersebut menyebabkan ibu hamil merasakan kantuk yang luar biasa. Kondisi ini akan hilang pada trimester kedua dan muncul lagi pada trimester ketiga. Pada trimester ketiga, kelelahan ini dapat berkaitan dengan peningkatan berat badan yang menyebabkan kesulitan bergerak dan peningkatan kebutuhan metabolism tubuh dalam rangka persiapan persalinan dan menyusui.Mengurangi beban pekerjaan ibu hamil dapat dilakukan untuk mengurangi kelelahan, karena hal ini secara psikologis bersifat menenteramkan hati ibu, dapat dilakukan sampai ibu memasuki trimester kedua. Mengurangi beban kerja juga dapat meningkatkan frekuensi periode istirahat sepanjang hari, namun hindari istirahat yang berlebihan. Olahraga ringan dan asupan nutrisi yang adekuat juga dapat mengatasi gejala kelelahan. Bidan perlu meyakinkan pada ibu bahwa gejala kelelahan merupakan suatu hal yang normal terjadi pada awal kehamilan.
  6. Sakit Kepala (Pusing) –>  Sakit kepala (pusing) merupakan suatu keluhan yang sering dialami oleh ibu hamil. Hal ini dapat disebabkan oleh perubahan hormonal, sinusitis, tegangan pada mata, keletihan, dan perubahan emosional. Apapun penyebabnya, penting bagi bidan untuk mengetahui sifat dari sakit kepala tersebut dan memberikan pendidikan kesehatan tentang cara mengatasinya. Sakit kepala pada ibu hamil juga dapat berkaitan dengan adanya anemia fisiologis selama kehamilan. Keluhan pusing/sakit kepala dapat muncul pada trimester satu, dua ataupun tiga.Untuk mengatasi keluhan ini, apabila ibu sedang beraktivitas maka ibu dapat beristirahat. Hindari berdiri terlalu lama pada lingkungan yang panas dan sesak. Apabila pusing terjadi saat berbaring, maka bangun secara perlahan dari posisi tersebut, dan hindari berbaring dalam posisi terlentang. Sebisa mungkin hindari obat-obatan kimia, kecuali atas resep dokter dan hanya obat yang dapat membantu. Imbangi juga dengan asupan gizi seimbang. Sakit kepala ini dapat terjadi kapan saja selama kehamilan, namun apabila terjadi sakit kepala akut dan terjadi pada trimester ketiga disertai dengan bengkak pada ekstrimitas dan muka, maka ibu harus segera periksa ke petugas kesehatan, untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut (tekanan darah dan protein urune).
  7. Perubahan Payudara –>  Perubahan payudara seringkali menjadi salah satu perubahan pertama yang disadari oleh ibu hamil berkaitan dengan kehamilannya. Seringkali payudara menjadi lebih lunak dan terasa penuh akibat perubahan hormonal. Terjadi peningkatan hormone estrogen yang berguna sebagai persiapan laktasi dengan peningkatan deposit lemak pada jaringan payudara. Terjadi pula peningkatan sirkulasi vaskuler, putting susu membesar dan terjadi hiperpigmentasi areola dan putting. Perubahan tersebut dapat menjadi suatu ketidaknyamanan pada sebagian ibu hamil, ibu akan merasakan payudaranya tegang.Perubahan payudara yang signifikan terjadi pada saat hamil, bukan setelah melahirkan. Untuk itu, perawatan yang tepat pada payudara saat hamil, akan menentukan bentuk payudara ibu setelah berakhirnya proses menyusui. Gunakan bra yang menopang payudara dari bawah (bukan menekan payudara dari depan) dengan tali bra yang tidak terlalu ketat dan tidak terlalu longgar, dan gunakan bra yang berasal dari bahan katun, serta hindari membersihkan payudara pada area putting dan areola menggunakan sabun. Membersihkan putting dapat mengunakan baby oil, ataupun minyak zaytun.
  8. Striae Gravidarum
  9. Keringat Berlebih –>  Meningkatnya keringat pada ibu hamil dapat terjadi mulai trimester pertama kehamilan dan akan terus meningkat secara perlahan sampai akhir kehamilan. Hal ini dapat disebabkan oleh perubahan sistem integument akibat kehamilan, dan meningkatnya metabolisme. Bidan perlu menjelaskan pada ibu hamil bahwa ini merupakan suatu hal yang normal. Untuk itu, jelaskan pada ibi hamil untuk mengenakan pakaian yang mudah menyerap keringat, tidak terlalu tebal dan longgar. Tingkatkan kebersihan badan dengan mandi menggunakan air mengalir minimal dua kali sehari (frekuensi mandi bisa ditambah). Untuk menghindari dehidrasi, tingkatkan rehidrasi/asupan cairan. Keluhan sering BAK yang mungkin timbul, hendaknya tidak menjadi alasan bagi ibu hamil untuk membatasi cairan.
  10. Peningkatan Frekuensi Buang Air Kecil/BAK (Nocturia) –> Peningkatan frekuensi BAK merupakan suatu gangguan/ketidaknyamanan yang fisiologis, umumnya terjadi pada ibu hamil trimester satu dan kembali terjadi pada trimester ketiga. Pada trimester satu terjadi pembesaran uterus dan penambahan berat uterus pada bagian fundus uteri, dan isthmus uteri menjadi lunak (tanda Hegar), menyebabkan uterus menjadi semakin antefleksi sehingga mendesak vesika urinaria. Sedangkan pada trimester ketiga peningkatan frekuensi BAK terjadi karena bagian terendah janin yang mulai memasuki Pintu Atas Panggul (PAP) mendesak vesika urinaria (umumnya pada primigravida), hal tersebut mengurangi kapasitas vesika urinaria sehingga urine yang tertampung di vesika urinaria terdesak keluar (ibu sering merasa ingin BAK).

    Untuk mengantisipasi ketidaknyamanan tersebut, bidan dapat menjelaskan tentang sebab terjadinya ganguan sering BAK; berikan penjelasan untuk mengosongkan vesika urinaria saat ada dorongan untuk BAK; perbanyak minum pada siang hari; jangan kurangi minum untuk mencegah ingin BAK (nokturia), kecuali jika nokturia sangat mengganggu tidur di malam hari; batasi minum kopi, teh, dan soda; dan jelaskan pula tentang bahaya infeksi saluran kemih dengan menjaga posisi tidur, yaitu dengan berbaring miring ke kiri dan kaki ditinggikan untuk mencegah diuresis.

  11. Konstipasi 
  12. Flatulence –>  Flatulence yaitu keluhan sering buang angin/kentut, dapat juga diasosiasikan dengan perut kembung, dapat terjadi pada trimester dua ataupun tiga kehamilan. Peningkatan frekuensi flatus dapat diakibatkan oleh penurunan motalitas gastrointestinal. Hal ini juga dimungkinkan hasil/efek dari peningkatan progesterone yang mengakibatkan relaksasi saluran pencernaan dan penekanan saluran pencernaan oleh karena pembesaran uterus, sehingga menyebabkan makanan yang dikonsumsi bergerak melalui sistem pencernaan lebih lambat, akibatnya menyebabkan ibu hamil sering buang angina.Upaya untuk mengatasi keluhan ini adalah: a) pola makan yang teratur, dan hindari makanan yang: mengandung gas (kol, sawi, bunga kol, durian, nangka), berkadar lemak tinggi (steak, ayam goring tepung dengan kulit, martabak daging), minuman bersoda, permen karet), b) meengunyah makanan secara sempurna, c) pertahankan BAB secara teratur, d) melakukan senam secara teratur, e) posisi knee-chest dapat membantu ketidaknyamanan untuk mengeluarkan gas dari dalam perut.
  13. Hemorrhoid –> Hemoroid disebut juga wasir, merupakan suatu keluhan yang disebabkan oleh konstipasi. Oleh sebab itu, konstipasi memegang peranan penting pada perkembangan hemoroid. Progesterone juga menyebabkan relaksasi pembuluh darah vena dan usus besar. Pembesaran uterus dapat menekan pembuluh darah vena khususnya vena hemorroidal, sehingga penekanan ini akan menghambat sirkulasi pada pembuluh darah vena dan menyebabkan kemacetan pada vena di pelvis.

    Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mengatasi keluhan ini, yaitu: a) hindari terjadinya konstipasi, pencegahan merupakan tindakan yang paling efektif, b) hindari mengejan terlalu kuat saat defekasi / BAB, c) mandi menggunakan air dingin dan air hangat, tidak hanya meningkatkan kenyamanan pada ibu hamil tetapi juga dapat meningkatkan sirkulasi pembuluh darah vena, d) untuk mengurangi dapat dikompres di hemoroid tersebut menggunakan air es atau air hangat, e) reinsersi hemoroid ke dalam rectum (menggunakan lubrikan) bersamaan dengan latihan Kegel setiap selesai BAB, f) bedrest dengan posisi tungkai bawah ditinggikan, g) berikan obat analgetik topical, h) makan makanan yang berserat dan banyak minum.

  14. Leukorrhea (Keputihan)
  15. Dyspareunia –> Dyspareunia yaitu nyeri saat berhubungan seksual/coitus. Dyspareunia selama hamil dapat disebabkan oleh perubahan fisiologis, yaitu kongesti/kemacetan pada pembuluh darah pelvis/vagina karena terhalang oleh pembesaran uterus. Masalah ini merupakan efek dari pembesran uterus karena penekanannya pada organ pelvis. Faktor psikologis dapat juga berpengaruh pada keluhan ini karena terjadi miskonsepsi dan ketakutan bahwa coitus dapat menyakiti janin.

    Penatalaksanaan disesuaikan dengan penyebabnya, diantaranya: a) perubahan posisi selama coitus dapat meringankan masalah ini karena pembesaran abdomen dan sakit karena penetrasi yang dalam, b) penggunaan es mungkin dapat meringankan keluhan ini, namun dapat mengakibatkan ketidaknyamanan selama coitus, c) diskusi tentang miskonsepsi dan ketakutan akan bahaya coitus selama hamil dengan menyajikan fakta-fakta dapat meyakinkan wanita hamil, d) suami-isteri saling terbuka akan informasi mengenai alternative pemecahan masalah tentang kebutuhan seksual dan kepuasan seksual selama hamil.

  16. Insomnia
  17. Hiperventilasi (Sesak Nafas)
  18. Nyeri Punggung Atas –>  Nyeri punggung (terutama bagian atas) dapat terjadi mulai trimester pertama, yang terjadi karena peningkatan ukuran dan perubahan payudara yang menjadi lunak dan padat, yang merupakan salah satu tanda presumtif kehamilan. Untuk mengatasi hal ini, ibu hamil dapat menggunakan bra yang menopang payudara dengan tali bra yang dapat menarik punggung ke atas/menjadi tegak. Dengan mengurangi mobilitas payudara yaitu bra dengan cup yang sesuai dan nyaman, juga dapat mengurangi ketidaknyamanan ini. Cara lain adalah dengan menggunakan postur tubuh yang baik, ibu hamil juga dapat menggunakan kasur yang tidak terlalu empuk, serta menggunakan bantal tambahan ketika tidur untuk meluruskan punggung.
  19. Nyeri Punggung Bawah (Pinggang)
  20. Kram Kaki –> Kram kaki dapat muncul setelah usia kehamilan 24 minggu. Penyebab terjadinya kram belum dapat dipastikan, namun selama beberapa tahun kram kaki diperkirakan disebabkan oleh kekurangan asupan kalsium atau ketidakseimbangan antara rasio kalsium-fosfor di dalam tubuh. Kemungkinan lain diasumsikan berhubungan dengan terhambatnya aliran darah ke pembuluh darah perifer akibat penekanan pembuluh darah di sekitar pelvis oleh pembesaran uterus pada vena yang membawa darah ke bagian ekstrimitas bawah, dan atau penekanan pada syaraf di sekitar foramen obturator yang menuju ke ekstrimitas bawah.Tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal tersebut adalah: a) latihan dorsofleksi pada kaki dan meregangkan otot yang kram, b) lakukan olah raga ringan secara teratur dan lakukan body mekanik yang baik untuk meningkatkan sirkulasi, c) lakukan elevasi pada kaki (mengangkat kaki) secara periodic sepanjang hari, d) konsumsi susu dengan kandungan kalsium dan fosfor secara seimbang, e) gunakan penghangat untuk otot.
  21. Varises Vena pada Kaki
  22. Dependen Edema –>   Edema fisiologis yang sering terjadi adalah pada tungkai bawah, merupakan akibat dari sirkulasi darah (pembuluh darah vena) yang terhambat dan peningkatan tekanan vena pada ekstrimitas bawah. Terganggunya sirkulasi ini disebabkan oleh peningkatan tekanan karena pembesaran uterus pada vena pelvia ketika ibu hamil duduk ataupun berdiri dan pada vena cava inferior ketika ibu berbaring telentang. Penggunaan baju yang terlalu ketat juga dapat menghambat sirkulasi darah pada pembuluh darah vena di ekstrimitas bawah.Edema fisiologis yang umumnya dijumpai pada bagian pergelangan kaki dan kaki ini, harus dapat dibedakan dengan edema patologis yang berhubungan dengan preeklamsi dan eklamsi. Umumnya edema fisiologis dapat berkurang dengan tindakan berikut ini: a) hindari penggunaan baju/celana ketat; b) luruskan kaki secara periodic sepanjang hari; c) posisi badan miring ketika berbaring; d) penggunaan korset yang sesuai/menopang perut ibu , mungkin dapat mengurangi tekanan pada vena pelvis.
  23. Nyeri Ligamentum Rotundum
  24. Mati Rasa pada Jari-Jari Tangan (dan atau Tremor) –> Perubahan pusat gravitasi pada kehamilan yang merupakan akibat dari pembesaran uterus dapat menyebabkan perubahan postur tubuh ibu hamil, sehingga bahu ibu hamil menjadi semakin jauh ke arah belakang badan dan mengakibatkan antefleksi bagian kepala, merupakan suatu upaya untuk menyeimbangkan semakin beratnya bagian depan badan ibu dan semakin melengkungknya bagian belakang badan ibu. Perubahan postur tubuh ini memungkinkan menyebabkan penekanan pada bagian median dan ulnar syaraf-syaraf yang terdapat di tangan, yang dapat mengakibatkan jari-jari tangan mengalami mati rasa dan atau tremor. Hiperventilasi juga dapat menyebabkan keadaan tersebut, namun sebagian besar ibu hamil tidak merasakan keluhan ini sebagai efek dari hiperventilsi.

    Upaya yang dilakukan untuk mengatasi ketidaknyamanan ini adalah dengan menjelaskan penyebab secara fisiologis, dan menganjurkan ibu hamil untuk melakukan postur tubuh yang baik, dapat juga dengan membaringkan badan.

  25. Supine Hypotensive Syndrome –>   Ketidaknyamanan ini ditandai dengan: ibu merasa pusing, sampai-sampai ibu dapat pingsan apabila pusingnya tidak segera diatasi. Supine hypotensive syndrome dapat terjadi ketika ibu berbaring dalam posisi terlentang (posisi supine), karena pembesaran uterus mendesak/menekan vena cava inverior dan pembuluh darah vena yang lain. Kembalinya darah ke jantung melalui pembuluh darah vena terhambat, sehingga mengurangi jumlah darah yang mengalir ke jantung kemudian menurunkan jumlah cardiac output. Supine hypotensive syndrome sebenarnya juga merupakan hipotensi arterial, dimana pembesaran uterus dapat menekan pembuluh darah aorta, sehingga berakibat pada perubahan tekanan pada pembuluh darah aorta.Untuk mengatasi hal ini, maka saat berbaring berbaringlah dengan posisi miring, atau dengan melakukan sit up ringan. Penjelasan yang baik dengan upaya meyakinkan ibu tentang keadaan ini merupakan suatu hal yang sangat penting saat ibu merasa ketakutan ataupun sangat cemas.
  26. Perubahan Emosional –>  Selama terjadinya kehamilan, ketidakstabilan emosional pada beberapa wanita hamil sangat terasa perubahannya. Hal ini dapat disebabkan oleh banyak faktor. Tidak hanya diakibatkan oleh perubahan hormonal yang mempengaruhi ibu dalam merasakan dan bereaksi terhadap situasi tertentu, tetapi dapat juga karena ketidaknyamanan fisik yang dirasakan akibat berbagai gangguan kehamilan yang terjadi.Peran bidan adalah memberikan dukungan pada ibu dan keluarga dengan meyakinkan mereka bahwa kondisi tersebut merupakan suatu hal yang yang umum terjadi pada ibu hamil (normal). Namun demikian, bidan juga perlu memperhatikan dan mewaspadai adanya penyebab/peristiwa lain selain karena kehamilan yang dapat menimbulkan kondisi tersebut, diantaranya: pindah rumah, kematian salah satu anggota keluarga, kehilangan pekerjaan, dan lain-lain. Ketidakstabilan emosional pada masa kehamilan juga dapat mempengaruhi ibu pada periode postpartum, dan dapat menyebabkan terjadinya depresi postpartum.

Referensi:

  1. Bobak, Lowdermilk, Jensen (Alih bahasa: Wijayarini, Anugerah). 2005. Buku Ajar Keperawatan Maternitas, edisi 4. EGC, Jakarta.
  2. Fraser, Cooper (Alih bahasa: Rahayu, et.al.). 2009. Myles, Buku Ajar Bidan, edisi 14. EGC, Jakarta.
  3. Varney. 1997. Varney’s Midwifery, 3rd Edition. Jones and Bartlett Publishers, London UK.
  4. Varney, Kriebs, Gegor. 2002. Buku Ajar Asuhan Kebidanan, Edisi 4, Volume 1. EGC, Jakarta.

Tulisan Terkait: 1. http://what-when-how.com/nursing/normal-pregnancy-maternal-and-newborn-nursing-part-4/ 2. http://intranet.tdmu.edu.ua/data/kafedra/internal/ginecology2/classes_stud/en/nurse/adn/ptn/2/Nursing%20Care%20of%20Childbearing%20Family_Practicum/01.%20Anatomy%20and%20physiology%20of%20pregnancy.htm 3. http://intranet.tdmu.edu.ua/data/kafedra/internal/ginecology2/classes_stud/en/med/lik/ptn/Obstetrics%20and%20gynecology/6%20year/02.%20Early%20gestosis.%20Hypertensive%20disorders%20during%20pregnancy..htm

Varises Vena di Ekstrimitas Bawah/Kaki pada Ibu Hamil

Posted on Updated on

Oleh: Gita Kostania

Tulisan ini bagian dari …

Varises vena disebut juga varicosities, dapat terjadi pada ibu hamil trimester dua akhir ataupun trimester tiga. Banyak faktor yang menyebabkan berkembangnya varises vena pada kaki ibu hamil selama kehamilan. Varises vena mungkin terjadi pada ibu hamil dimana mempunyai kecenderungan dari faktor keluarga/faktor genetik. Varises vena dapat terjadi akibat sirkulasi pada pembuluh darah balik di ekstrimitas bawah tidak adekuat dan karena peningkatan tekanan pada vena di ekstrimitas bawah. Perubahan tersebut disebabkan oleh penekanan karena pembesaran uterus pada pembuluh darah vena di pelvis ketika ibu hamil duduk atau berdiri dan pada vena cava inferior ketika berbaring. Penggunaan pakaian yang teralu ketat dapat menghambat kembalinya darah dari vena di ekstrimitas bawah, atau berdiri yang terlalu lama juga dapat memperparah masalah ini. Progesterone dapat mengakibatkan relaksasi dinding pembuluh darah vena, katup jantung, dan otot-otot yang mengelilingi jantung, juga dapat berkontribusi pada perkembangan varises vena.

Varises vena dalam kehamilan sering timbul di ekstrimitas bawah (kaki) dan atau vulva. Varises vena pada vulva dapat berbahaya apabila dalam proses persalinan pembuluh darah tersebut pecah, dapat mengakibatkan perdarahan hebat. Beberapa hal untuk mengantisispasi ketidaknyamanan terkait varises vena adalah: a) gunakan kaos kaki atau stocking yang elastis, digunakan sebelum menggerakkan kaki/beraktivitas; b) hindari menggunakan sepatu berhak tinggi, kaos kaki pendek dan atau kaos kaki bertali; c) hindari berdiri atau duduk yang terlalu lama; d) istirahatkan kaki pada waktu istirahat dengan meninggikan kaki secara periodic sepanjang hari; e) berbaring dengan posisi kaki ditinggikan lurus membentuk sudut 450 dengan dinding, dimana kaki menempel di dinding (gambar 1); f) hindari menggunakan pakaian atau korset yang ketat; g) hindari duduk menyilangkan kaki; h) lakukan senam hamil untuk melancarkan peredaran darah; i) pertahankan postur tubuh yang baik dan body mekanik; j) gunakan penopang perut untuk meringankan tekanan pada vena di pelvis.

8734293

Gambar 1: Posisi Berbaring dengan Posisi Kaki Ditinggikan Lurus Membentuk Sudut 45dengan Dinding

Untuk mengantisipasi varises vena pada vulva, dapat mencoba posisi inklinasi beberapa kali sehari, yaitu: posisi ibu berbaring kaki ditinggikan lurus dan menempel pada dinding membentuk sudut 450, dan kemudian bagian bokong diangkat. Selain itu, dapat juga melakukan senam Kegel, senam Kegel juga bermanfaat untuk mencegah hemoroid dan meningkatkan sirkulasi darah. Senam ini dapat dilakukan kapan dan dimanapun dalam posisi tubuh tegak sempurna, tulang belakang lurus dan dada membusung (duduk atau berdiri) dengan keadaan kandung kemih kosong (tidak berkeinginan untuk miksi/buang air kecil), yaitu: dengan menahan/menarik bagian otot-otot dasar panggul seperti ketika menahan miksi, tahan beberapa detik kemudian lepaskan. Selengkapnya… Lakukan latihan ini dengan sabar hingga sekitar 6 kali sehari, lebih sering lebih baik.

Selain mengatasi keluhan varises pada vena, senam kegel juga bermanfaat untuk menjaga elastisitas otot-otot dasar panggul, sehingga berdampak pada keadaan otot-otot dasar panggul dan perineum pada proses persalinan dan setelah melahirkan.

 

Referensi:

  1. Bobak, Lowdermilk, Jensen (Alih bahasa: Wijayarini, Anugerah). 2005. Buku Ajar Keperawatan Maternitas, edisi 4. EGC, Jakarta.
  2. Fraser, Cooper (Alih bahasa: Rahayu, et.al.). 2009. Myles, Buku Ajar Bidan, edisi 14. EGC, Jakarta.
  3. Varney. 1997. Varney’s Midwifery, 3rd Edition. Jones and Bartlett Publishers, London UK.
  4. Varney, Kriebs, Gegor. 2002. Buku Ajar Asuhan Kebidanan, Edisi 4, Volume 1. EGC, Jakarta.

 

Kegel’s Exercise (Senam Kegel)

Posted on

Senam kegel adalah senam yang dilakukan untuk memperkuat otot- otot dasar panggul terutama otot pubococcygeal sehingga seorang wanita dapat memperkuat otot-otot saluran kemih dan otot-otot vagina. Otot-otot dasar panggul atau otot PC (PuboCoccygeal Muscle) merupakan otot yang melekat pada tulang-tulang panggul seperti ayunan dan berperan menggerakkan organ-organ dalam panggul yaitu rahim, kandung kemih, dan usus. Nama senam ini diambil dari penemunya Arnold Kegel, seorang dokter spesialis kebidanan dan penyakit kandungan di Los Angeles sekitar tahun 1950-an. Dalam perkembangannya, senam Kegel tidak hanya dilakukan oleh wanita, namun juga pria.

images (1)

Adapun manfaat dari senam kegel antara lain :

  • Meningkatkan kepuasan seksual pada saat berhubungan seks karena lebih kuatnya daya cengkeram vagina
  • Mencegah terjadinya ambein atau wasir
  • Mencegah terjadinya ‘ngompol kecil’ saat bersin dan batuk
  • Pada pria, membantu mengatasi keluhan ejakulasi dini.

Proses kehamilan dan proses persalinan dapat menjadi beban yang berat bagi otot-otot dasar panggul, untuk itu wanita perlu melatih otot-otot PC-nya dengan melakukan senam Kegel (Kegel’s exercise). Pada kehamilan, persalinan dan nifas, senam Kegel bermanfaat untuk:

  • Membantu mengatasi ketidaknyamanan pada kehamilan
  • Mencegah robeknya perineum (meningkatkan elastisitas perineum)
  • Mengurangi kemungkinan masalah urinasi seperti inkontinensia paska persalinan
  • Mengurangi resiko terkena hemoroids (ambein)
  • Mempermudah proses persalinan (otot kuat dan terkendali)
  • Mempercepat pemulihan otot-otot dasar panggul setelah melahirkan.

Senam ini dapat dilakukan kapan dan dimanapun serta dalam keadaan apapun. Namun, sebaiknya dalam posisi tubuh tegak sempurna, tulang belakang lurus dan dada membusung (duduk atau berdiri) dengan keadaan kandung kemih kosong (tidak berkeinginan untuk miksi/buang air kecil), yaitu: dengan menahan/menarik bagian otot-otot dasar panggul seperti ketika menahan miksi, tahan beberapa detik kemudian lepaskan. Selengkapnya:

  • Lakukan seolah-olah sedang menahan buang air kecil dan buang angin sekaligus, rapatkan otot liang vagina dan liang dubur sekaligus sampai dinding otot perut juga tertarik “masuk”, dan tahan napas.
  • Tahan  posisi ini sekitar 10 detik, caranya: hitung angka 1001, 1002, 1003… sampai 1010), jika belum bisa 10 detik, coba dulu 5 detik dan bertahap semakin lama.
  • Setelah mencapai  10 detik, kendurkan kembali semua otot, relaks, buang napas, dan ambil napas secara teratur, lakukan sekitar 4 detik dan ulangi lagi “kontraksi” buatan ini.
  • Secara bertahap tingkatkan lama menahan kencing 15 detik, 20 detik, dan seterusnya.
  • Lakukanlah secara serial setidaknya 6-12 kali tiap latihan, dan lakukan latihan ini dengan sabar hingga sekitar 6 kali sehari, lebih sering lebih baik.

Dengan mengetahui banyaknya manfaat senam Kegel, maka diharapkan setiap wanita melakukan senam ini kapan dan di manapun, serta tanpa mempertimbangkan status reproduksinya. Selamat mencoba, dan selamat berbagi.

~G~ berbagai sumber.

Rancangan Tugas Materi Ketidaknyamanan selama Kehamilan

Posted on

Rancangan Tugas MK: Asuhan Kehamilan, Materi Ketidaknyamanan selama Kehamilan, dapat diunduh pada lampiran berikut ini:

Rancangan Tugas 1 – Ketidaknyamanan Selama Kehamilan

Rancangan/Uraian Tugas MK.KDK II Materi Perawatan Luka dalam Praktek Kebidanan

Posted on Updated on

Rancangan tugas/uraian tugas ini berisi deskripsi tugas dan luaran tugas mahasiswa, serta rubrik penilaian laporan dan presentasi. Selengkapnya dapat di unduh pada : Uraian Tugas Perawatan Luka dalam Praktek Kebidanan .

PPT Pembelajaran: Bahan Pembelajaran Problem Solving Perawatan Luka dalam Praktek Kebidanan

PPT Materi: Perawatan Luka dalam Praktek Kebidanan