Materi Kuliah

Massage Perineum pada Kehamilan

Posted on Updated on

Oleh: Gita Kostania, Aisma Ayu K, Alfinda Meilan P, Mita Murdiana, Monika Amalia.

Pendahuluan

Pada proses persalinan, organ reproduksi wanita khususnya perineum akan mengalami peregangan. Proses peregangan ini lah yang tak lepas dari terjadinya robekan atau disebut ruptur perineum. Perineum dapat robek ketika melahirkan atau secara sengaja digunting guna melebarkan jalan keluar bayi atau episiotomi.

Ruptur perineum adalah robekan yang terjadi pada perineum sewaktu persalinan dan terjadi pada hampir semua persalinan pertama dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya. Robekan perineum disebabkan oleh faktor ibu (paritas, jarak kelahiran dan berat badan bayi), pimpinan persalinan yang salah, riwayat persalinan, ekstraksivakum, trauma alat dan episiotomi (Wiknjosastro, 2005).

Robekan pada saat melahirkan pervaginam merupakan kejadian umum dikalangan wanita. Dalam studi, dimana penggunakan episiotomi dibatasi, tingkat robekan spontan saat melahirkan berkisaran 44-79% (Soong dan Barnes 2005;Homer et al. 2007). Hasil penelitian menunjukan bahwa perempuan yang pertama kali melahirkan kemungkinan untuk  mengalami robekan lebih besar.

Sebanyak 85% wanita melahirkan pervaginam dapat mengalami ruptur perineum. Salah satu ketakutan yang sering dirasakan oleh ibu hamil terutama trimester III adalah takut robek dan dijahit. Terutama pada ibu yang pernah mengalaminya, hal ini bisa menjadikan trauma baginya saat menghadapi proses persalinannya nanti. Juga bekas dari robekan perineum ini dapat berpengaruh pada rasa sakit saat berhubungan (dispereunia) dengan pasangan.

Salah satu cara mengurangi ruptur perineum adalah dengan melakukan pemijatan perineum atau disebut massage perineum. Massage perineum adalah teknik memijat perineum saat hamil atau beberapa minggu sebelum melahirkan untuk meningkatkan kesehatan, aliran darah dan elastisitas perineum. Peningkatan elastisitas perineum akan mencegah kejadian robekan perineum maupun episiotomi.

Apa itu Massage Perineum ?

Perineum adalah salah satu jalur yang dilalui pada saat proses persalinan dapat robek ketika melahirkan atau secara sengaja digunting guna melebarkan jalan keluarnya bayi (episiotomi) (Herdiana, 2007).

Massage perineum (pijat perineum/ pemijatan perineum/ perineal massage) adalah teknik memijat perineum di saat hamil atau beberapa minggu sebelum melahirkan guna meningkatkan perubahan hormonal yang melembutkan jaringan ikat, sehingga jaringan perineum lebih elastis dan lebih mudah meregang. Peningkatan elastisitas perineum akan mencegah kejadian robekan perineum maupun episiotomi. Teknik ini dapat dilakukan satu kali sehari selama beberapa minggu terakhir kehamilan di daerah perineum (area antara vagina dan anus).

Pijat perineum adalah salah satu cara untuk meningkatkan kesehatan, aliran darah, elastisitas, dan relaksasi otot-otot dasar panggul. Teknik ini, jika dilatih pada tahap akhir kehamilan (mulai minggu ke-34) sebelum persalinan, juga akan membantu mengenali dan membiasakan diri dengan jaringan yang akan dibuat rileks dan bagian yang akan dilalui oleh bayi. (Mongan, Marie FM. Hypno birthing.2007)

Apakah Tujuan dan Manfaat Dilakukannya Pemijatan pada Perineum ?

Pijat perineum ini akan membantu melunakkan jaringan perineum sehingga jaringan tersebut akan membuka tanpa resistensi saat persalinan, untuk mempermudah lewatnya bayi. Pemijatan perineum ini memungkinkan untuk melahirkan bayi dengan perineum tetap utuh (Mongan, 2007, hlm. 178). Pijat perineum memiliki berbagai keuntungan yang semuanya bertujuan mengurangi kejadian trauma di saat melahirkan.

Pijat perineum selama masa kehamilan dapat melindungi fungsi perineum paling tidak dalam 3 bulan pasca melahirkan. Pijat perineum ini harus selalu dijelaskan pada ibu hamil agar mereka mengetahui keuntungan dari pijat perineum ini. Pijat perineum ini sangat aman dan tidak berbahaya.

Catatan : Pijat perineum sebaiknya tidak dilakukan bagi ibu hamil dengan infeksi herpes genital, vaginitis, infeksijamur, infeksi saluran kemih, atau infeksi menular yang dapat menyebar dengan kontak langsung dan memperparah penyebaran infeksi.

Tujuan dari pijat perineum selama kehamilan, yaitu :

  1. Dapat membantu melunakkan jaringan perineum sehingga jaringan tersebut akan membuka tanpa resistensi pada saat persalinan,untuk mempermudah lewatnya bayi.
  2. Untuk peningkatan elastisitas perineum sehingga melahirkan bayi dengan perineum tetap utuh.
  3. Untuk meningkatkan kesehatan, aliran darah, dan relaksasi otot-otot dasar panggul.
  4. Mempersiapkan jaringan perineum menghadapi situasi saat proses persalinan terutama pada saat kepala janin crowning perineum lebih rileks (Beckmann and Andrea J, 2006)

Pijat perineum memiliki berbagai keuntungan yang semunya bertujuan mengurangi kejadian trauma di saat melahirkan. Adapun keuntungannya pada persalinan diantaranya adalah:

  1. Menstimulasi aliran darah ke perineum yang akan membantu mempercepat proses penyembuhan setelah melahirkan
  2. Membantu ibu lebih santai di saat pemeriksaan vagina (Vaginal Touche)
  3. Membantu menyiapkan mental ibu terhadap tekanan dan regangan perineum di kala kepala bayi akan keluar.
  4. Menghindari kejadian episiotomi atau robeknya perineum di kala melahirkan dengan meningkatkan elastisitas perineum. Dengan pijatan dapat membantu otot-otot perineum dan vagina jadi elastis sehingga memperkecil risiko perobekan dan episiotomi.
  5. Melancarkan aliran darah di daerah perineum dan vagina, serta aliran hormon yang membantu melemaskan otot-otot dasar panggul sehingga proses persalinan jadi lebih mudah dan proses pemulihan jaringan serta otot di sekitar jalan lahir lebih cepat.
  6. Membantu ibu mengontrol diri saat mengejan, karena “jalan keluar” untuk bayi sudah disiapkan dengan baik.
  7. Meningkatkan kedekatan hubungan dengan pasangan, bila Anda melibatkan dia untuk melakukan pijat perineum ini.

Adapun manfaat pijat perineum adalah:

  1. Dapat mengurangi robekan perineum.
  2. Membantu menyiapkan mental ibu pada saat dilakukan pemeriksaan dalam (VT).
  3. Meningkatkan psikologis dan kedekatan terhadap pasangan.
  4. Perineum tidak ruptur baik spontan maupun episiotomi, bila sampai ruptur perineum tidak sampai melebihi derajat 2 (selaput lendir vagina, kulit perineum dan otot perineum).
  5. Jika sampai terjadi ruptur perineum pada kehamilan sebelumnya, pemijatan perineum dapat mempercepat proses penyembuhan perineum.

Indikasi Pijat Perineum ?

  1. Pemijatan perineum lebih baik dilakukan pada wanita hamil dengan umur maksimal sekitar 30 tahun.
  2. Pada ibu primigravida, karena jaringan di vagina lebih padat dibanding multigravida
  3. Pada perineum yang kaku.

Perineum yang kaku dapat menghambat persalinan Kala II yang meningkatkan resiko kematian bayi dan menyebabkan kerusakan–kerusakan  jalan lahir yang luas. Perineum kaku adalah tidak elastisnya struktur sekitarnya yang menempati pintu bawah panggul di sebalah anterior dibatasi oleh simpisis pubis, disebelah posterior oleh OS cogcigis. Keadaan demikian dapat dijumpai pada primigravida yang umurnya lebih dari 35 tahun yang lazim disebut primitua. Dengan adanya perineum kaku maka robekan sewaktu kepala lahir tidak dapat dihindarkan.

  1. Perempuan yang pernah dilakukan episiotomi.

Jika sampai terjadi rupture perineum, pemijatan perineum dapat mempercepat proses penyembuhan perineum. Penelitian yang diterbitkan di Amerika Journal Obstetrician and Gynecology menyimpulkan bahwa pemijatan perineum selama kehamilan dapat melindungi fungsi perineum paling tidak dalam 3 bulan pascamelahirkan. The Cochrane Review merekomendasikan bahwa pemijatan perineum ini harus selalu dijelaskan pada ibu hamil agar mereka mengetahui keuntungan dari pemijatan perineum ini. Pemijatan perineum ini sangat aman dan tidak berbahaya.

Kontra Indikasi Pijat Perineum ?

  1. Pada wanita yang belum melakukan hubungan seks.
  2. Ibu hamil dengan infeksi herpes aktif di daerah vagina, infeksi saluran kemih, infeksi jamur, atau infeksi menular yang dapat menyebar dengan kontak langsung dan memperparah penyebaran infeksi.

Bagaimana Pelaksanaan Pijat Perineum ?

Pelaksanaan masase perineum membutuhkan waktu lebih kurang 5-10 menit setiap harinya, dimulai pada usia kehamilan 34 minggu sehari sekali, sampai janin lahir. Massase perineum paling efektif dilakukan untuk ibu hamil primi. Masase perineum ini dilakukan dengan menggunakan minyak  yang dilakukan oleh wanita nulipara atau pasangannya. Dalam referensi lain dijelaskan bahwa pemijatan perineum sebaiknya sudah mulai dilakukan sejak enam minggu sebelum hari-H persalinan. Lakukanlah pemijatan sebanyak 5-6 kali dalam seminggu secara rutin. Selanjutnya, selama 2 minggu menjelang persalinan, pemijatan dilakukan setiap hari, dengan jadwal sebagai berikut:

  1. Minggu pertama, lakukan selama 3 menit.
  2. Minggu kedua, lakukan selama 5 menit.
  3. Hentikan pemijatan ketika kantung ketuban mulai pecah dan cairan ketuban mulai keluar. Atau, pada saat proses persalinan sudah dimulai.

Tindakan ini dapat dilakukan oleh:

  1. Dokter, bidan atau tenaga kesehatan
  2. Diri sendiri
  3. Pasangan atau suami.

Hal-Hal apa saja yang perlu Disiapkan untuk Massage Perineum ?

Bahan bahan yang dibutuhkan diantaranya:

  1. Minyak yang hangat seperti minyak gandum yang kaya vitamin E, virgin coconut oil (VCO), atau pelumas dengan larutan dasar air, misalnya jelly K-Y. Jangan menggunakan baby oil, minyak larutan mineral, jelly petroleum, hand lotion, dan minyak yang beraroma
  2. Jam atau penunjuk waktu untuk menghitung lamanya pemijatan.
  3. Beberapa buah bantal untuk pengganjal tubuh ibu

Jika ibu melakukan pemijatan sendiri, posisinya adalah berdiri dengan satu kaki diangkat dan ditaruh di tepi bak mandi atau kursi. Gunakan ibu jari untuk memijat. Jika dipijat pasangan, posisi ibu sebaiknya setengah berbaring. Sangga punggung, leher, kepala, dan kedua kaki dengan bantal. Regangkan kaki, kemudian taruh bantal di bawah setiap kaki. Gunakan jari tengah dan telunjuk atau kedua jari telunjuk pasangan untuk memijat.

Petunjuk Umum Pelaksanaan Pijat Perineum ?

  1. Pertama kali, gunakan cermin untuk mengidentifikasi daerah perineum
  2. Jika anda merasa tegang, silahkan mandi dengan air hangat atau kompres hangat pada perineum selama 5-10 menit
  3. Jika anda memiliki luka bekas episiotomy pada persalinan sebelumnya, maka fokuskan untuk memijat pada daerah terebut. Jaringan parut bekas luka akibat episiotomy menjadi tidak begitu elastic sehingga memerlukan perhatian yang ekstra
  4. Posisi persalinan sangat mempengaruhi kemungkinan terjadinya robekan pada jalan lahir. Dengan upright positions (duduk, jongkok, berlutut) atau side-lying position (berbaring) dapat mengurangi tekanan pada perineum. Namun, posisi terlentang dengan kedua kaki terbuka dan diangkat ke atas/litotomy membuat rupture (robek) ataupun tindakan episiotomy tidak dapat dihindarkan lagi
  5. Perineum massage dilakukan pada umur kehamilan > 34 minggu
  6. Jika anda melakukan pijatan sendiri, mungkin paling mudah menggunakan ibu jari. Bila yang melakukan adalah pasangan anda, dapat menggunakan jari-jari telunjuk
  7. Dianjurkan untuk melakukan pemijatan ini minimal selama 5-10 menit setap hari dari umur kehamilan 34 atau 35 minggu kehamilan sampai persalinan dan berhenti pada saat ketuban pecah atau persalinan dimulai
  8. Kontra indikasi : vaginitis, herpes genital, atau masalah vagina yang lain (ebaliknya tunggu sampai penyakit anda sembuh)

Teknik Massage Perineum ?

Adapun teknik pelaksanaan massage perineum adalah cukup mudah. Sebelum mulai memijat perineum, sebaiknya potong pendek kuku jari-jari tangan Anda, lalu cuci kedua tangan dengan sabun hingga bersih. Duduklah di tempat yang nyaman dengan posisi kedua kaki diregangkan, salah satu kaki diangkat dan diganjal dengan bantal. Atau, Anda dapat pula memilih posisi seperti hendak melahirkan, yaitu kedua kaki diregangkan, ganjal kepala, punggung, leher dan kedua kaki dengan bantal. Setelah itu, barulah mulai memijat, dengan urutan berikut.

  1. Oleskan minyak pada daerah perineum.
  2. Tarik napas panjang dan berusahalah santai, jangan tegang.
  3. Masukkan ibu jari satu atau kedua tangan Anda dengan posisi ditekuk ke dalam perineum, sementara jari-jari lainnya tetap berada di luar vagina. Kemudian lakukan latihan Kegel yaitu suatu latihan untuk otot-otot dasar panggul dengan cara seperti menahan kencing ataupun buang air sehingga ibu jari merasakan otot yang tegang. Apabila suami Anda yang melakukan pijat perineum ini, gunakan jari telunjuk.
  4. Pijat perineum dengan tekanan yang sama, dengan arah dari atas ke bawah (menuju anus), lalu ke samping kiri dan kanan secara bersamaan. Jangan memijat terlalu keras karena mengakibatkan pembengkakan pada jaringan perineum. Awalnya, Anda akan merasakan otot-otot perineum dalam keadaan masih kencang. Namun, seiring berjalannya waktu dan semakin sering Anda melakukan pemijatan, otot-otot perineum akan mulai lentur (tidak kencang) dan mengendur.
  5. Pijatlah hingga timbul rasa hangat (slight burning).
  6. Lemaskan otot-otot dasar panggul Anda, lalu gerakkan ibu jari atau telunjuk yang berada di dalam vagina membentuk huruf U secara berirama. Lakukan pemijatan dengan sambil mendorong jari ke arah luar dan bawah (ke arah anus), selama 3 menit.
  7. Kini, lakukan pemijatan ke arah luar perineum dengan gerakan seperti proses kepala bayi pada saat akan lahir. Hindari pemijatan ke arah uretra (lubang kencing) karena akan mengakibatkan iritasi.
  8. Setelah pemijatan selesai Anda lakukan, kompres hangat jaringan perineum Anda selama kurang-lebih 10 menit. Lakukan secara perlahan dan hati-hati. Kompres hangat ini akan meningkatkan sirkulasi darah sehingga otot-otot di daerah perineum kendur (tidak berkontraksi atau tegang).

Gambar 1: Teknik Massage Perineum

Gambar 2: Prosedur Massage Perineum

Media: Video Tutorial Massage Perineum

Istilah dalam Masase Perineum ?

  1. External stretching/massage : masase di bagian luar.
  2. Lateral stretch : letakkan dua atau tiga jari anda tepat ditengah perineum dan tarik kearah luar, tegangkan otot dan kulit luar perineum anda.
  3. Vertical stretch – up: Letakkan dua atau tiga jari anda membentuk formasi “V” pada perineum dan tarik kearah atas menuju simfisis pubis, pada sisi-sisi labia anda. Tarik sampai batas rambut yang ada pada labia anda.
  4. Vertical stretch – down: letakkan ibu jari anda pada garis tengah perineum anda, tarik dan tekan (saling berlawanan)

Dalam waktu beberapa minggu, ibu akan merasakan daerah perineum menjadi lebih elastis. Melahirkan dengan perlahan dan terkendali (mengikuti instruksi dokter/bidan ketika mendorong) adalah kunci jaminan perineum utuh dan mengurangi angka kejadian laserasi (robekan/perlukaan). Bayi harus berada di dalam kondisi baik dan ibu harus mengikuti segala hal yang diperintahkan oleh dokter/bidan.

Referensi

  1. Mongan, Marie. 2007. Hypno Birthing The Mongan Method. Jakarta : BIP (BhuanaIlmuPopuler) KelompokGramedia

Indriarti,MT.2008. SenamHamildanBalita.Jogjakarta:penerbitCemerlang Publishing.

Muhimah, Nanik. 2010. SenamHamilKhususibuhamil . Jogjakarta:penerbit power book.

Sinclair, Constance. 2003. BukuSakuKebidanan. Jakarta : EGC

Woolfson, Julian. 2004. Seri AsuhanKebidananMualdanmuntahKehamilan. Jakarta : EGC

Iklan

Asuhan Kebidanan Berkesinambungan

Posted on

Oleh: Gita Kostania

Materi ini ditulis sebagai bekal mahasiswa dan pembimbing dalam pelaksanaan Praktik Kebidanan Semester VII (Praktik Kebidanan Komunitas Komprehensif), mahasiswa DIV Kebidanan Semester VII, Prodi DIV Kebidanan Poltekkes Kemenkes Surakarta.

A. Konsep Asuhan Kebidanan Berkesinambungan

Asuhan berkesinambungan berhubungan dengan kualitas asuhan sepanjang waktu. Terdapat dua perspektif terakit asuhan berkesinambungan. Secara tradisional, asuhan berkesinambungan idealnya didasarkan pada pengalaman pasien dalam pemberian asuhan berkelanjutan dengan seorang bidan maupun tenaga kesehatan lain. Sedangkan bagi penyedia layanan kesehatan dalam sistem asuhan terpadu secara vertical, asuhan berkesinambungan adalah pemberian layanan kesehatan tanpa batas kepada pasien, melalui layanan terintegrasi, koordinasi, dan tukar informasi antara pemberi asuhan yang berbeda. (Gulliford, 2006).

Asuhan kebidanan berkesinambungan mempunyai definisi yang beragam. Hodnett (2008) merangkum definisi asuhan kebidanan berkesinambungan menjadi 4 hal:

  1. Suatu pernyataan komitmen untuk mempopulerkan filosofi asuhan kebidanan. Bahwa proses kehamilan dan persalinan merupakan suatu hal yang fisiologis.
  2. Kepatuhan terhadap standar asuhan perawatan selama kehamilan dan atau persalinan.
  3. Suatu sistem dimana seorang pasien yang telah pulang dari Rumah Sakit, secara rutin dirujuk ke layanan komunitas.
  4. Perawatan yang sebenarnya oleh pemberi perawatan atau kelompok kecil pemberi perawatan (yang sama), selama kehamilan, persalinan dan kelahiran bayi, dan periode postpartum.

Asuhan kebidanan berkesinambungan dapat diberikan melalui model perawatan berkelanjutan oleh bidan, yang mengikuti perempuan sepanjang masa kehamilan, kelahiran dan masa pasca kelahiran, baik yang beresiko rendah maupun beresiko tinggi, dalam setting pelayanan di komunitas, praktik mandiri bidan, maupun rumah sakit. (Sandall, 2010).

Guilliland&Pairman (2010), menjelaskan bahwa asuhan kebidanan berkesinambungan adalah asuhan kebidanan yang diberikan oleh bidan (dan tim nya) kepada perempuan sepanjang keseluruhan pengalaman persalinannya. Asuhan ini menitikberatkan pada hubungan satu-satu, antara pasien dan pemberi asuhan, dengan harapan dapat terbangun “parnership” yang baik dengan pasien, sehingga terbina hubungan saling percaya. Upaya tersebut dapat dimulai dari kehamilan dan seterusnya (bersalin dan postpartum, serta masa menyusui), yang juga merupakan waktu yang paling tepat untuk bidan bekerja bersama setiap perempuan untuk mendiskusikan harapannya dan ketakutannya akan proses kelahiran dan proses menjadi ibu, serta membangun kepercayaan dirinya.

Bidan juga bekerja bersama keluarga dalam memberikan asuhan untuk mengatasi ketakutan yang dirasakan perempuan dan mencegah terjadinya kesalahpahaman. Proses pemecahan masalah dapat menjadi semakin mudah, karena setiap perempuan dapat mengeksplorasi informasi dengan baik dan membuat keputusan terbaik untuk dirinya. Bidan dan perempuan mempunyai waktu yang cukup untuk mendiskusikan tentang persalinan, nyeri dan ketidaknyamanan, dampak terhadap lingkungan, dan ketidakpastian dan kerumitan yang mungkin timbul. Jadi idelanya pada saat perempuan memasuki fase persalinan, dia mempunyai kerelaan dan kepercayaan diri untuk membiarkan dan percaya pada tubuhnya menjalankan proses persalinan.

Pelaksanaan asuhan kebidanan berkesinambungan berhubungan dengan berkurangnya penggunaan teknologi dan intervensi farmakologi dalam persalinan. (Pairman, 2011). Asuhan kebidanan berkesinambungan dapat meningkatkan kesehatan ibu dan bayi, dengan efek samping minimal. Persentase persalinan spontan juga meningkat. (Sandall, 2010).

Model asuhan kebidanan berkesinambungan secara umum bertujuan untuk meningkatkan kualitas asuhan berkelanjutan sepanjang siklus kehidupan. Sandall (2010), menguraikan syarat asuhan berkesinambungan, yaitu:

  1. Kesinambungan manajemen. Merupakan pendekatan pengaturan kasus yang konsisten dan jelas, yang responsif dalam memenuhi kebutuhan klien. Manajemen juga melibatkan komunikasi berdasarkan fakta dan penilaian dalam tim, institusi pendidikan, dan batasan profesional kebidanan, serta antara pemberi pelayanan dan pasien. Manajer dalam asuhan berkesinambungan adalah bidan. Asuhan kebidanan berkesinambungan dapat dilakukan oleh 4 orang, dengan melibatkan mahasiswa kebidanan dan kader kesehatan.
  2. Kesinambungan informasi. Semua tim yang terlibat dalam pemberian asuhan mempunyai informasi yang cukup tentang keadaan kliennya untuk dapat memberikan asuhan yang tepat. Informasi untuk klien, difokuskan pada ketersediaan waktu untuk memberikan informasi yang relevan (terkait asuhan yang diberikan). Semuanya penting, baik untuk para manajer (bidan) dan pasien.
  3. Kesinambungan hubungan. Hubungan berarti “hubungan terapeutic” antara pasien dan tenaga kesehatan, sepanjang waktu. Hubungan personal yang tetap terjaga sepanjang waktu, dapat mempunyai efek yang baik pada pasien dan hasil asuhannya. Untuk memenuhi kaidah ini, asuhan berkesinambungan hendaknya dilakukan oleh satu orang tenaga kesehatan yang sama.

Dalam kasus rujukan dari layanan primer ke sekunder yang terjadi selama proses persalinan, bidan harus menyerahkan asuhannya kepada petugas yang berwenang, dan diutamakan untuk tetap tinggal dan menemani perempuan selama persalinan di tempat rujukan. Perencanaan tempat bersalin dan antisipasi tempat rujukan harus diperhatikan sebagai konsep yang penting, yang dibicarakan selama asuhan kehamilan. (Jonge, 2014).

B. Perencanaan Pelaksanaan Asuhan Kebidanan Berkesinambungan dalam Setting Praktik Klinik Kebidanan

Asuhan kebidanan berkesinambungan yang dilakukan sebagai project studi kasus Praktik Kebidanan Semester VII ini dilakukan selama 6 minggu, pada ibu hamil trimester III (mulai usia kehamilan minimal 35 minggu) yang diikuti sampai dengan proses persalinan dan masa nifas minimal kunjungan nifas ke-2 (KF-2).

Tujuan program ini adalah memberikan pengalaman kepada mahasiswa dalam mengupayakan asuhan berkesinambungan kepada wanita sepanjang siklus kehidupan.

Dalam pelaksanaan asuhan kebidanan berkesinambungan ini, satu orang ibu hamil dikelola oleh satu tim care-provider, yang terdiri atas 3 orang, yaitu:

  1. Bidan (CI), sebagai manager kasus. Bertugas untuk menentukan sasaran studi kasus. Tidak ada syarat khusus terkait karakteristik perempuan untuk dijadikan subjek. Sebaiknya subjek tersebut dapat berkomunikasi dengan baik, yang juga mendapatkan dukungan dari keluarga.
  2. Mahasiswa bidan, sebagai pelaksana asuhan. Asuhan dapat mulai dilaksanakan setelah manager kasus merekomendasikan subjek studi kasus. Mahasiswa membuat rencana asuhan yang didiskusikan dengan manager dan dikonsultasikan dengan supervisor.
  3. Pembimbing (dosen), sebagai supervisor. Supervisor bertugas memantau perkembangan kasus dan juga membimbing mahasiswa dalam memberikan asuhan kebidanan.

Proses pelaksanaan asuhan kebidanan berkesinambungan secara singkat dapat digambarkan sebagai berikut:

 

Gambar 2.1. Gambar Siklus Pelaksanaan Asuhan Kebidanan Berkesinambungan

Berdasarkan gambar di atas, dapat dijelaskan:

  1. Pada awal praktek, mahasiswa melakukan kesepakatan bersama dengan pembimbing lahan (CI/ Bidan) melalui kontrak belajar. Bidan menentukan subyek studi kasus, kemudian mendiskusikan dengan mahasiswa terkait gambaran karakteristik klien dan rencana asuhan jangka panjang.
  2. Bidan beserta mahasiswa yang didampingi dosen pembimbing (supervisor) bersama dengan klien, mendiskusikan program asuhan yang akan diberikan. Bidan menjelaskan program asuhan, mahasiswa membuat kontrak asuhan dan juga membangun kepercayaan dengan klien dan keluarga.
  3. Pelaksanaan asuhan kebidanan berkesinambungan selama kehamilan, bersalin, dan nifas. Pelaksanaan asuhan berdasarkan manajemen asuhan kebidanan, dengan melaksanakan asuhan sesuai standar asuhan (Kepmenkes No. 938/ Menkes/ SK/ VIII/ 2007), dan pendokumentasian asuhan kebidanan menggunakan model SOAP notes. Pengkajian awal didokumentasikan secara lengkap, untuk kemudian perkembangan asuhan dapat dicatat dalam format tabel. Dalam melaksanakan asuhan, mahasiswa mengkomunikasikannya dengan bidan sebagai manager kasus untuk berdiskusi terkait hasil pengkajian, diagnosis, rencana asuhan, implementasi dan evaluasi asuhan. Mahasiswa juga melaporkan asuhan yang telah diberikan kepada pembimbing sebagai supervisor untuk mendiskusikan hal-hal yang perlu ditindaklanjuti. Selama asuhan berlangsung, minimal sebanyak satu kali, dosen sebagai supervisor melakukan kunjungan rumah kepada klien bersama dengan mahasiswa.
  4. Evaluasi program dilakukan di akhir asuhan oleh semua pihak, baik klien dan keluarga, bidan, mahasiswa, dan pembimbing. Evaluasi bertujuan untuk menggali sejauhmana keberhasilan asuhan berkesinambungan.

REFERENSI

Guilliland K, Pairman S. 2010. The Midwifery partnership: a Model of Practice (2nd ed.) New Zaeland College of Midwives, Christchurch.

Gulliford M, Naithani S, Morgan M. 2006. What is Continuity of Care?. Journal Health Service policy, 2006, 11: 248.

Hodnett ED. 2008. Review Article: Continuity of Caregivers for Care During Pregnancy and Childbirth. The Cochrane Collaboration, John Wiley Publisher.

Jonge AD, et.al. 2014. Continuity of care: What Matters to Women when They are Referres from Primary to Secondary Care during Labour?. BMC Pregnancy and Childbirth 2014, 14:103.

Pairman S, Tracy S, Thorogood C, et.al. 2011. Midwifery: Preparation for Practice. Churchill Livingstone, Sydney Australia.

Sandall J. 2010. A Report: The Contribution of Continuity of Midwifery Care to High Quality Maternity Care. The Royal College of Midwives, UK.

Diproteksi: Perangkat Pembelajaran MK. SIK Prodi D-IV Kebidanan Reguler Smt.VII

Posted on

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Diproteksi: MK. Sistem Informasi Kesehatan, Prodi DIV Kebidanan (Alih Jenjang)

Posted on Updated on

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Diproteksi: Rencana Pembelajaran Semester, Uraian Tugas dan Materi MK. Teknologi Tepat Guna, Prodi DIV Kebidanan Alih Jenjang Reguler Smt.1

Posted on

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Diproteksi: Materi P.1 dan P.2 SIK Smt. II, Alih Jenjang Klaten 2016

Posted on

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Diproteksi: Perangkat Pembelajaran MK.Teknologi Tepat Guna dalam Pelayanan Kebidanan Smt.III Prodi D-IV Kebidanan

Posted on

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini: