Lain-Lain

Asuhan Kebidanan Berkesinambungan

Posted on

Oleh: Gita Kostania

Materi ini ditulis sebagai bekal mahasiswa dan pembimbing dalam pelaksanaan Praktik Kebidanan Semester VII (Praktik Kebidanan Komunitas Komprehensif), mahasiswa DIV Kebidanan Semester VII, Prodi DIV Kebidanan Poltekkes Kemenkes Surakarta.

A. Konsep Asuhan Kebidanan Berkesinambungan

Asuhan berkesinambungan berhubungan dengan kualitas asuhan sepanjang waktu. Terdapat dua perspektif terakit asuhan berkesinambungan. Secara tradisional, asuhan berkesinambungan idealnya didasarkan pada pengalaman pasien dalam pemberian asuhan berkelanjutan dengan seorang bidan maupun tenaga kesehatan lain. Sedangkan bagi penyedia layanan kesehatan dalam sistem asuhan terpadu secara vertical, asuhan berkesinambungan adalah pemberian layanan kesehatan tanpa batas kepada pasien, melalui layanan terintegrasi, koordinasi, dan tukar informasi antara pemberi asuhan yang berbeda. (Gulliford, 2006).

Asuhan kebidanan berkesinambungan mempunyai definisi yang beragam. Hodnett (2008) merangkum definisi asuhan kebidanan berkesinambungan menjadi 4 hal:

  1. Suatu pernyataan komitmen untuk mempopulerkan filosofi asuhan kebidanan. Bahwa proses kehamilan dan persalinan merupakan suatu hal yang fisiologis.
  2. Kepatuhan terhadap standar asuhan perawatan selama kehamilan dan atau persalinan.
  3. Suatu sistem dimana seorang pasien yang telah pulang dari Rumah Sakit, secara rutin dirujuk ke layanan komunitas.
  4. Perawatan yang sebenarnya oleh pemberi perawatan atau kelompok kecil pemberi perawatan (yang sama), selama kehamilan, persalinan dan kelahiran bayi, dan periode postpartum.

Asuhan kebidanan berkesinambungan dapat diberikan melalui model perawatan berkelanjutan oleh bidan, yang mengikuti perempuan sepanjang masa kehamilan, kelahiran dan masa pasca kelahiran, baik yang beresiko rendah maupun beresiko tinggi, dalam setting pelayanan di komunitas, praktik mandiri bidan, maupun rumah sakit. (Sandall, 2010).

Guilliland&Pairman (2010), menjelaskan bahwa asuhan kebidanan berkesinambungan adalah asuhan kebidanan yang diberikan oleh bidan (dan tim nya) kepada perempuan sepanjang keseluruhan pengalaman persalinannya. Asuhan ini menitikberatkan pada hubungan satu-satu, antara pasien dan pemberi asuhan, dengan harapan dapat terbangun “parnership” yang baik dengan pasien, sehingga terbina hubungan saling percaya. Upaya tersebut dapat dimulai dari kehamilan dan seterusnya (bersalin dan postpartum, serta masa menyusui), yang juga merupakan waktu yang paling tepat untuk bidan bekerja bersama setiap perempuan untuk mendiskusikan harapannya dan ketakutannya akan proses kelahiran dan proses menjadi ibu, serta membangun kepercayaan dirinya.

Bidan juga bekerja bersama keluarga dalam memberikan asuhan untuk mengatasi ketakutan yang dirasakan perempuan dan mencegah terjadinya kesalahpahaman. Proses pemecahan masalah dapat menjadi semakin mudah, karena setiap perempuan dapat mengeksplorasi informasi dengan baik dan membuat keputusan terbaik untuk dirinya. Bidan dan perempuan mempunyai waktu yang cukup untuk mendiskusikan tentang persalinan, nyeri dan ketidaknyamanan, dampak terhadap lingkungan, dan ketidakpastian dan kerumitan yang mungkin timbul. Jadi idelanya pada saat perempuan memasuki fase persalinan, dia mempunyai kerelaan dan kepercayaan diri untuk membiarkan dan percaya pada tubuhnya menjalankan proses persalinan.

Pelaksanaan asuhan kebidanan berkesinambungan berhubungan dengan berkurangnya penggunaan teknologi dan intervensi farmakologi dalam persalinan. (Pairman, 2011). Asuhan kebidanan berkesinambungan dapat meningkatkan kesehatan ibu dan bayi, dengan efek samping minimal. Persentase persalinan spontan juga meningkat. (Sandall, 2010).

Model asuhan kebidanan berkesinambungan secara umum bertujuan untuk meningkatkan kualitas asuhan berkelanjutan sepanjang siklus kehidupan. Sandall (2010), menguraikan syarat asuhan berkesinambungan, yaitu:

  1. Kesinambungan manajemen. Merupakan pendekatan pengaturan kasus yang konsisten dan jelas, yang responsif dalam memenuhi kebutuhan klien. Manajemen juga melibatkan komunikasi berdasarkan fakta dan penilaian dalam tim, institusi pendidikan, dan batasan profesional kebidanan, serta antara pemberi pelayanan dan pasien. Manajer dalam asuhan berkesinambungan adalah bidan. Asuhan kebidanan berkesinambungan dapat dilakukan oleh 4 orang, dengan melibatkan mahasiswa kebidanan dan kader kesehatan.
  2. Kesinambungan informasi. Semua tim yang terlibat dalam pemberian asuhan mempunyai informasi yang cukup tentang keadaan kliennya untuk dapat memberikan asuhan yang tepat. Informasi untuk klien, difokuskan pada ketersediaan waktu untuk memberikan informasi yang relevan (terkait asuhan yang diberikan). Semuanya penting, baik untuk para manajer (bidan) dan pasien.
  3. Kesinambungan hubungan. Hubungan berarti “hubungan terapeutic” antara pasien dan tenaga kesehatan, sepanjang waktu. Hubungan personal yang tetap terjaga sepanjang waktu, dapat mempunyai efek yang baik pada pasien dan hasil asuhannya. Untuk memenuhi kaidah ini, asuhan berkesinambungan hendaknya dilakukan oleh satu orang tenaga kesehatan yang sama.

Dalam kasus rujukan dari layanan primer ke sekunder yang terjadi selama proses persalinan, bidan harus menyerahkan asuhannya kepada petugas yang berwenang, dan diutamakan untuk tetap tinggal dan menemani perempuan selama persalinan di tempat rujukan. Perencanaan tempat bersalin dan antisipasi tempat rujukan harus diperhatikan sebagai konsep yang penting, yang dibicarakan selama asuhan kehamilan. (Jonge, 2014).

B. Perencanaan Pelaksanaan Asuhan Kebidanan Berkesinambungan dalam Setting Praktik Klinik Kebidanan

Asuhan kebidanan berkesinambungan yang dilakukan sebagai project studi kasus Praktik Kebidanan Semester VII ini dilakukan selama 6 minggu, pada ibu hamil trimester III (mulai usia kehamilan minimal 35 minggu) yang diikuti sampai dengan proses persalinan dan masa nifas minimal kunjungan nifas ke-2 (KF-2).

Tujuan program ini adalah memberikan pengalaman kepada mahasiswa dalam mengupayakan asuhan berkesinambungan kepada wanita sepanjang siklus kehidupan.

Dalam pelaksanaan asuhan kebidanan berkesinambungan ini, satu orang ibu hamil dikelola oleh satu tim care-provider, yang terdiri atas 3 orang, yaitu:

  1. Bidan (CI), sebagai manager kasus. Bertugas untuk menentukan sasaran studi kasus. Tidak ada syarat khusus terkait karakteristik perempuan untuk dijadikan subjek. Sebaiknya subjek tersebut dapat berkomunikasi dengan baik, yang juga mendapatkan dukungan dari keluarga.
  2. Mahasiswa bidan, sebagai pelaksana asuhan. Asuhan dapat mulai dilaksanakan setelah manager kasus merekomendasikan subjek studi kasus. Mahasiswa membuat rencana asuhan yang didiskusikan dengan manager dan dikonsultasikan dengan supervisor.
  3. Pembimbing (dosen), sebagai supervisor. Supervisor bertugas memantau perkembangan kasus dan juga membimbing mahasiswa dalam memberikan asuhan kebidanan.

Proses pelaksanaan asuhan kebidanan berkesinambungan secara singkat dapat digambarkan sebagai berikut:

 

Gambar 2.1. Gambar Siklus Pelaksanaan Asuhan Kebidanan Berkesinambungan

Berdasarkan gambar di atas, dapat dijelaskan:

  1. Pada awal praktek, mahasiswa melakukan kesepakatan bersama dengan pembimbing lahan (CI/ Bidan) melalui kontrak belajar. Bidan menentukan subyek studi kasus, kemudian mendiskusikan dengan mahasiswa terkait gambaran karakteristik klien dan rencana asuhan jangka panjang.
  2. Bidan beserta mahasiswa yang didampingi dosen pembimbing (supervisor) bersama dengan klien, mendiskusikan program asuhan yang akan diberikan. Bidan menjelaskan program asuhan, mahasiswa membuat kontrak asuhan dan juga membangun kepercayaan dengan klien dan keluarga.
  3. Pelaksanaan asuhan kebidanan berkesinambungan selama kehamilan, bersalin, dan nifas. Pelaksanaan asuhan berdasarkan manajemen asuhan kebidanan, dengan melaksanakan asuhan sesuai standar asuhan (Kepmenkes No. 938/ Menkes/ SK/ VIII/ 2007), dan pendokumentasian asuhan kebidanan menggunakan model SOAP notes. Pengkajian awal didokumentasikan secara lengkap, untuk kemudian perkembangan asuhan dapat dicatat dalam format tabel. Dalam melaksanakan asuhan, mahasiswa mengkomunikasikannya dengan bidan sebagai manager kasus untuk berdiskusi terkait hasil pengkajian, diagnosis, rencana asuhan, implementasi dan evaluasi asuhan. Mahasiswa juga melaporkan asuhan yang telah diberikan kepada pembimbing sebagai supervisor untuk mendiskusikan hal-hal yang perlu ditindaklanjuti. Selama asuhan berlangsung, minimal sebanyak satu kali, dosen sebagai supervisor melakukan kunjungan rumah kepada klien bersama dengan mahasiswa.
  4. Evaluasi program dilakukan di akhir asuhan oleh semua pihak, baik klien dan keluarga, bidan, mahasiswa, dan pembimbing. Evaluasi bertujuan untuk menggali sejauhmana keberhasilan asuhan berkesinambungan.

REFERENSI

Guilliland K, Pairman S. 2010. The Midwifery partnership: a Model of Practice (2nd ed.) New Zaeland College of Midwives, Christchurch.

Gulliford M, Naithani S, Morgan M. 2006. What is Continuity of Care?. Journal Health Service policy, 2006, 11: 248.

Hodnett ED. 2008. Review Article: Continuity of Caregivers for Care During Pregnancy and Childbirth. The Cochrane Collaboration, John Wiley Publisher.

Jonge AD, et.al. 2014. Continuity of care: What Matters to Women when They are Referres from Primary to Secondary Care during Labour?. BMC Pregnancy and Childbirth 2014, 14:103.

Pairman S, Tracy S, Thorogood C, et.al. 2011. Midwifery: Preparation for Practice. Churchill Livingstone, Sydney Australia.

Sandall J. 2010. A Report: The Contribution of Continuity of Midwifery Care to High Quality Maternity Care. The Royal College of Midwives, UK.

Iklan

Kampanye Pencegahan HIV-AIDS

Posted on Updated on

Oleh: Gita Kostania

Salah satu program dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang perlu disebarluaskan oleh tenaga kesehatan ataupun relawan-aktivis pada masyarakat luas adalah ‘Kampanye Pencegahan HIV-AIDS’ dengan slogan “Aku Bangga Aku Tahu”. Pendidikan kesehatan tentang HIV-AIDS ini penting diberikan pada masyarakat luas karena setiap orang beresiko terkena AIDS dengan penyebaran yang sangat cepat, serta belum ditemukannya vaksin untuk mencegah dan obat yang efektif untuk mengobatinya.

Sejak pertama kali ditemukan tahun 1987 sampai dengan Maret 2013, HIV-AIDS tersebar di 348 (70%) dari 497 kabupaten/kota di seluruh provinsi di Indonesia. Provinsi pertama kali ditemukan adanya kasus HIV-AIDS adalah Provinsi Bali, sedangkan yang terakhir melaporkan adalah Provinsi Sulawesi Barat pada tahun 2011.

=> HIV

Sampai dengan tahun 2005 jumlah kasus HIV yang dilaporkan sebanyak 859, tahun 2006 (7.195), tahun 2007 (6.048), tahun 2008 (10.362), tahun 2009 (9.793), tahun 2010 (21.591), tahun 2011 (21.031), tahun 2012 (21.511). Jumlah kumulatif infeksi HIV yang dilaporkan sampai dengan September 2013 sebanyak 118.787. Jumlah infeksi HIV tertinggi yaitu di DKI Jakarta (27.207), diikuti Jawa Timur (15.233), Papua (12.687), Jawa Barat (9.267) dan Bali (7.922).

 => AIDS

Sampai dengan tahun 2005 jumlah kasus AIDS yang dilaporkan sebanyak 4.987, tahun 2006 (3.514), tahun 2007 (4.425), tahun 2008 (4.943), tahun 2009 (5.483), tahun 2010 (6.845) dan tahun 2011 (7.004), dan tahun 2102 (5.686). Jumlah kumulatif AIDS dari tahun 1987 sampai dengan September 2013 sebanyak 45.650 orang. Persentase kumulatif kasus AIDS tertinggi pada kelompok umur 20-29 tahun (34,5%), kemudian diikuti kelompok umur 30-39 tahun (28,7%), 40-49 tahun (10,6%), 15-19 (3,2%), dan 50-59 tahun (3,2%). Proporsi kasus baru penderita AIDS yang dilaporkan berdasarkan kelompok umur tersebut, menunjukkan bahwa ODHA terbanyak pada usia produktif.

Persentase AIDS pada laki-laki sebanyak 55,7% dan perempuan 29,2%. Sementara itu 15,1% tidak melaporkan jenis kelamin. Kondisi yang mempercepat penularan pada pria adalah pria dewasa pembeli sex, sedangkan pada perempuan adalah yang menikah dengan pria beresiko tinggi. Perempuan penderita AIDS dapat menularkan pada anak yang dikandungnya melalui proses persalinan dan menyusui.

Jumlah AIDS tertinggi adalah pada wiraswasta (5.430), diikuti ibu rumah tangga (5.353), tenaga non-profesional/karyawan (4.847), buruh kasar (1.897), penjaja seks (1.771), petani/peternak/nelayan (1.757), dan anak sekolah/mahasiswa (1.123).

Jumlah AIDS terbanyak dilaporkan dari Papua (7.795), Jawa Timur (7.714), DKI Jakarta (6.299), Jawa Barat (4.131), Bali (3.798), Jawa Tengah (3.348), Kalimantan Barat (1.699), Sulawesi Selatan (1.660), Banten (957) dan Riau (951).

Faktor risiko penularan terbanyak melalui heteroseksual (60,9%), penasun (17,4%), diikuti penularan melalui perinatal (2,7%), dan homoseksual (2,8%). Angka kematian (CFR) menurun dari 3,21% pada tahun 2012 menjadi 0,85% pada bulan September tahun 2013.

=> Statistik Kasus AIDS di Indonesia – dilapor s/d September 2013

Dalam triwulan Juli s.d. September 2013 dilaporkan tambahan kasus HIV & AIDS sebagaimana berikut: HIV=10.203, dan AIDS=1.983. Jumlah kasus HIV & AIDS yang dilaporkan 1 Januari s.d. 30 September 2013 adalah: HIV=20.413, dan AIDS=2.763. Secara kumulatif kasus HIV & AIDS 1 Januari 1987 s.d. 30 September 2013, terdiri atas: HIV=118.792 dan AIDS=45.650.

Data statistic di atas menunjukkan bahwa sebenarnya kasus ini bagaikan fenomena gunung es, hanya kasus di permukaan saja yang nampak namun banyak kasus yang tidak terlaporkan lantaran ketidaktahuan dan kurangnya masyarakat akan bahaya AIDS.

Berdasarkan data-data yang diuraikan di atas, dapat disimpulkan bahwa: resiko penyebaran HIV sangat tinggi, usia ODHA saat terinfeksi pada 10-15 tahun, masih banyak ODHA yang belum teridentifikasi, dan remaja usia 15-24 tahun belum memiliki pengetahuan yang benar dan komprehensif tentang HIV-AIDS.

Hasil Riskesdas tahun 2010 menyimpulkan bahwa sebesar 11,4% responden (penduduk usia 15-24 tahun) memiliki pengetahuan yang benar dan komprehensif tentang HIV-AIDS. Dan hasil survey cepat yang dilakukan pada tahun 2012 menunjukkan sebesar 20,1 % penduduk usia 15-24 tahun memiliki pengetahuan yang benar dan komprehensif tentang HIV-AIDS. Walaupun mengalami peningkatan, namun hal ini masih jauh dari kesepakatan global yang telah dibuat dalam upaya penanggulangan AIDS, yaitu sebesar 95% pada akhir tahun 2014 kaum muda usia 15-24 tahun telah memiliki pengetahuan yang benar dan komprehensif tentang HIV-AIDS, dan pada tahun 2015 penyebaran HIV-AIDS menjadi nol persen (getting to zero) yang meliputi: zero new infected, zero discrimination dan zero HIV related death.

Penyebarluasan informasi yang benar mengenai pencegahan HIV-AIDS perlu dilakukan pada kelompok usia 15-24 tahun, dimana usia remaja merupakan tahapan pencarian jati diri dan rentan terhadap pengaruh negative pergaulan, dan sesuai yang telah dijelaskan di atas bahwa pada kelompok usia inilah yang paling tinggi terkena infeksi HIV.

Kampanye pencegahan HIV-AIDS yang diusung Kemenkes RI menggunakan personifikasi “Aku Bangga Aku Tahu”, mengandung makna bahwa: pemuda adalah pribadi yang menghargai budayanya, dia rogresif dan berfikiran terbuka; suka bergaul dan sangat menikmati pertemanannya, namun dia punya pendirian yang jelas; remaja suka menjaga penampilannya; serta karena mereka perhatian, ramah dan mandiri. Pesan kunci dari kampanye ini adalah: jiwa yang tegar menolak menggunakan narkoba, dan hati yang murni menolak perilaku seks bebas dan beresiko.

Materi

=> Pencegahan HIV-AIDS

Kasus AIDS di Indonesia pertama kali ditemukan pada tahun 1987. Perkembangan yang tajam mulai terjadi pada tahun 1993. Pada tahun 2003 dilaporkan kasus meningkat signifikan menjadi 3647 penderita, dan 60 persennya menyerang usia reproduktif bangsa. Sebenarnya AIDS bukan merupakan suatu penyakit, AIDS tidak menular yang menular adalah HIV yaitu virus yang menyebabkan kekebalan tubuh mencapai masa AIDS.

=> Pengertian

AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV; atau infeksi virus-virus lain yang mirip yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan lain-lain). Virusnya sendiri bernama HIV (Human Immunodeficiency Virus) yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan. HIV dan virus-virus sejenisnya umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu. Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral), transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut. Konsentrasi HIV terbanyak terdapat dalam larutan darah, cairan sperma dan cairan vagina, serta bisa menular pula melalui kontak darah atau cairan tersebut. Pada cairan tubuh lain konsentrasi HIV sangat rendah sehingga tidak bisa menjadi media atau saluran penularan.

Slide24

Gambar 1. Gambaran Penderita AIDS

=> Fase dan Gejala

Tidak ada gejala khusus jika seseorang sudah terinfeksi HIV, dengan kata lain orang yang mengidap HIV tidak bisa dikenali melalui diagnosis gejala tertentu, disamping itu orang yang terinfeksi HIV bisa saja tidak merasakan sakit. Berbulan-bulan atau tahun seseorang yang sudah terinfeksi dapat bertahan tanpa menunjukkan gejala klinis yang khas tetapi baru tampak pada tahap AIDS. Gejala AIDS baru bisa dilihat pada seseorang yang tertular HIV sesudah masa inkubasi, yang biasanya berlangsung antara 5-7 tahun setelah terinfeksi. Selama masa inkubasi jumlah HIV dalam darah terus bertambah sedangkan jumlah sel T semakin berkurang, kekebalan tubuhpun semakin rusak jika jumlah sel T makin sedikit. Fase dan gejala AIDS selengkapnya:

  1. Masa inkubasi terdiri dari beberapa tahap, tenggang waktu pertama setelah HIV masuk ke dalam aliran darah, disebut masa jendela / Window Period. Tenggang waktu berkisar antara 1-6 bulan, pada rentang waktu ini tes HIV akan menunjukkan hasil yang negatif karena tes yang menditeksi antibody HIV belum dapat ditemukan, tetapi walaupun seseorang yang terinfeksi HIV baru pada tahap jendela tetap saja dia dapat menularkan HIV kepada orang lain.
  2. Pada tahap kedua disebut kondisi asimptomatik, yaitu suatu keadaan yang tidak menunjukkan gejala-gejala walaupun dalam tubuh seseorang sudah ada HIV yang dapat dideteksi melalui tes. Kondisi ini bisa berlangsung antara 5-10 tahun, dan tahap inipun seseorang yang positif bisa menularkan HIVnya pada orang lain.
  3. Untuk tahap ketiga ditandai dengan pembesaran kelenjar limfe yang menetap dibanyak bagian tubuh.
  4. Tahap keempat ditandai dengan kondisi seseorang yang sel T–4 (sel darah putih sebagai pertahanan tubuh saat antigen masuk) pada dirinya sudah berada dibawah 200/microliter sehingga muncul berbagai macam penyakit, terutama penyakit-penyakit yang disebabkan infeksi oportunistik. Sebenarnya infeksi oportunistik ini juga sudah sering muncul sebelum seseorang mencapai masa AIDS, tetapi dia belum akan dikatakan dalam kondisi AIDS apabila sel T–4 didalam darahnya masih diatas 200/microliter.

WHO telah membuat kriteria gejala yang dapat dipakai sebagai pegangan dalam mendiagnosis AIDS, ada yang disebut gejala mayor dan gejala minor. Gejala minor atau ringan antara lain: batuk kronis lebih dari satu bulan, bercak-bercak merah dan gatal dipermukaan kulit pada beberapa bagian tubuh, Herpes Zorter (infeksi yang disebabkan virus yang menggangu saraf) yang muncul berulang-ulang, infeksi semacam sariawan pada mulut dan tenggorokan yang disebabkan oleh jamur Candida albicans, dan pembengkakan kelenjar getah bening yang menetap di sekujur tubuh. Sedangkan gejala-gejala mayor antara lain: demam yang berkepanjangan lebih dari tiga bulan, diare kronis lebih dari satu bulan berulang-ulang maupun terus-menerus dan penurunan berat badan lebih 10 persen dalam kurun waktu tiga bulan.

=> Penularan HIV-AIDS

Ada empat cara penularan HIV, yaitu:

  1. Melalui hubungan seksual dengan seorang pengidap HIV tanpa perlindungan atau menggunakan kontrasepsi (kondom).
  2. HIV dapat menular melalui transfusi dengan darah yang sudah tercemar HIV.
  3. Seorang ibu yang mengidap HIV bisa pula menularkannya kepada bayi yang dikandung, itu tidak berarti HIV /AIDS merupakan penyakit turunan, karena penyakit turunan berada pada gen-gen manusia sedangkan HIV menular saat darah atau cairan vagina ibu membuat kontak dengan cairan atau darah anaknya.
  4. Melalui pemakaian jarum suntik akupunktur, jarum tindik dan peralatan lainnya yang sudah dipakai oleh pengidap HIV.

Data Kementrian Kesehatan tahun 2012 menunjukkan bahwa sebesar 71% penularan AIDS berasal dari perilaku seks bebas. HIV-AIDS tidak menular melalui:

  1. Bersentuhan, senggolan, salaman, berpelukan, berciuman dengan penderita AIDS.
  2. Terkena percikan dari batuk dan bersin penderita AIDS.
  3. Menggunakan peralatan makan bersama-sama dengan penderita AIDS.
  4. Gigitan nyamuk.
  5. Terkena keringat, air mata dan ludah penderita AIDS.
  6. Berenang bersama-sama dengan penderia AIDS.

=> Mengurangi dan Mencegah Resiko Penularan

Untuk mengurangi dan mencegah resiko penularan HIV, maka:

  1. Bagi yang belum aktif melakukan kegiatan seksual (belum menikah), tidak melakukan hubungan seksual sama sekali. Sedangkan bagi yang sudah melakukan hubungan seksual aktif (sudah menikah), setia pada satu pasangan, menggunakan kontrasepsi (kondom), dan segera mengobati IMS (infeksi menular seksual) jika ada.
  2. Hindari memberikan ASI (Air Susu Ibu) pada bayi. Menurut United States Department of Health and Human Services, ASI dapat mengandung virus HIV, sehingga hindari kontak dari ASI dengan selaput lendir di mulut.
  1. Hanya melakukan transfusi darah yang bebas HIV. Menggunakan jarum dan peralatan lain yang steril.
  2. Menggunakan alat-alat steril saat terutama injeksi jarum suntik, tindik ataupun tattoo. Suntikan jarum yang dipakai bergantian dan tidak steril dapat menyebabkan risiko. AIDS menyebar karena transfusi darah, jadi sangat berhati-hati sebelum memakai jarum.
  3. Ibu dengan HIV (+) perlu mempertimbangkan lagi untuk hamil.

=> Kebijakan Nasional dan Tantangan Pengendalian HIV-AIDS

Kebijakan nasional dalam pencegahan HIV-AIDS meliputi:

  1. Mengupayakan advokasi, sosialisasi dan pengembangan kapasitas program.
  2. Kemampuan manajemen dan profesionalisme.
  3. Aksesibilitas dan kualitas pelayanan.
  4. Jangkauan pelayanan pada: kelompok masyarakat resiko tinggi, daerah tertinggal-terpencil, perbatasan dan kepulauan serta bermasalah kesehatan.
  5. Penyelenggaraan program berbasis masyarakat.
  6. Mengupayakan jejaring kerja, kemitraan dan kerja sama lintas program dan lintas sector.
  7. Pemenuhan kebutuhan sumber daya pendukung.
  8. Upaya promotif dan preventif melalui pendidikan kesehatan dan skrining.
  9. Pencapaian sasaran MDG’s, melalui komitmen nasional dan internasional.

Kebijakan nasional tersebut menjadi tantangan dalam upaya penurunan angka HIV-AIDS, berupa:

  1. Peningkatan pengetahuan komprehensif tentang HIV-AIDS  pada  usia 15-24 tahun.
  2. Peningkatan tes HIV dan cakupan AIDS.
  3. Diagnosis HIV secara dini.
  4. Mendekatkan layanan HIV-AIDS pada masyarakat.

Upaya-upaya pengendalian HIV-AIDS tersebut, harus didukung oleh peningkatan pendidikan moral, agama, kesehatan reproduksi dan bahaya NAPZA (narkotika, psikotropika dan zat adiktif).

#Berbagai Sumber #Ditjen PP & PL Kemenkes RI, 31 Oktober 2013.

 

Pedoman Penyusunan Soal Pilihan Ganda

Posted on Updated on

Untuk mengetahui keberhasilan proses pembelajaran, maka dilakukan evaluasi pembelajaran. Hal ini merupakan dasar untuk menetapkan apakah peserta didik dinyatakan kompeten atau tidak dalam penguasaan materi. Evaluasi terdiri dari dua langkah, yaitu mengukur dan menilai. Mengukur merupakan suatu langkah untuk mendapatkan data objektif, sedangkan menilai adalah suatu tindakan menafsirkan hasil pengukuran, yang pelaksanaannya menggunakan acuan-acuan tertentu, apakah menggunakan acuan norma ataukah acuan patokan.

Pengukuran hasil belajar menggunakan alat ukur yang berupa instrument tes. Tes merupakan alat ukur yang tepat digunakan untuk mengukur kompetensi terutama dalam ranah kognitif. Penulisaan butir soal yang baik dalam instrument tes mutlak diperlukan, karena hanya dengan alat ukur yang baiklah didapatkan hasil evaluasi belajar yang tepat.

Alat ukur yang baik adalah alat ukur yang dapat menghasilkan hasil pengukuran yang tepat (valid) dan tetap/ajeg (reliable). Alat ukur dikatakan valid jika alat ukur tersebut dapat menghasilkan hasil pengukuran yang tepat. Sedangkan alat ukur dikatakan reliable apabila alat ukur tersebut mampu menghasilkan hasil pengukuran yang ajeg atau konsisten. Jadi validitas dan reliabilitas hasil pengukuran merupakan syarat yang harus dipenuhi oleh instrument atau alat ukur.

 

Selengkapnya :

-Pedoman Penyusunan Soal Pilgan

-Lampiran – Pedoman Penyusunan Soal Pilgan