Kesehatan

Screening Test Kesehatan yang Perlu Dilakukan oleh Wanita

Posted on Updated on

Based on Article in WebMD, Translated and modified by: Gita Kostania

Screening test kesehatan merupakan salah satu upaya preventif dalam meningkatan kesehatan individu. Pepatah mengatakan bahwa: “mencegah lebih baik daripada mengobati”. Melakukan screening tes kesehatan secara dini dapat membantu kita dalam mencegah penyakit degenerative seperti kanker, diabetes dan osteoporosis, sehingga dapat lebih mudah untuk ditangani. Dengan dilakukannya screening test, dapat mengetahui potensi penyakit bahkan sebelum timbul gejala penyakit. Screening test yang dibutuhkan oleh setiap wanita bergantung pada usia, riwayat penyakit keluarga, riwayat kesehatan terdahulu, dan faktor resiko lainnya.

Di bawah ini beberapa screening test yang dapat dilakukan oleh wanita.

  • Screening Test terhadap Kanker Payudara

Semakin dini menemukan adanya kanker payudara, maka akan semakin besar kemungkinan untuk dapat sembuh. Kanker payudara pada stadium awal jarang menyebar ke kelenjar getah bening dan organ vital seperti paru-paru dan otak. Apabila anda berada pada usia 20an atau 30an tahun, sebaiknya melakukan pemeriksaan/screening payudara (menggunakan alat) sebagai bagian dari cek kesehatan rutin, setiap satu sampai tiga tahun sekali. Anda mungkin perlu melakukan screening lebih sering apabila mempunyai faktor resiko tambahan. Screening yang dapat dilakukan setiap bulan pada periode/siklus menstruasi adalah dengan melakukan pemeriksaan payudara sendiri (Sadari). Anda bisa menghubungi bidan/dokter untuk diajari bagaimana cara melakukannya.

Screening yang dilakukan menggunakan alat dan mendapatkan hasil yang lebih akurat adalah dengan mammografi. Mammografi adalah suatu alat yang digunakan untuk membentuk citra/ gambaran jaringan payudara menggunakan sinar-X dosis rendah. Dengan menggunakan alat ini, dapat menemukan adanya benjolan pada payudara sebelum anda merasakannya pada perabaan, meskipun hasil yang normal tidak sepenuhnya mengesampingkan adanya kanker. Pada usia 40an tahun, sebaiknya wanita melakukan screening menggunakan mammografi setiap tahun. Kemudian pada usia antara 50 dan 74 tahun, dapat dilakukan setiap beberapa tahun sekali tergantung faktor resiko yang anda miliki.

Mammografi malignant_tumor

Gb.1. Hasil Pencitraan Mammografi

  • Screening Test terhadap Kanker Cerviks

Serviks adalah lorong sempit di antara rahim (di mana bayi tumbuh) dan vagina (jalan lahir). Kanker cerviks merupakan salah satu kanker ganas yang paling umum dijumpai pada wanita. Penyebab utama kanker serviks adalah Human Papillomavirus (HPV). Selain itu, distimulasi oleh aktivitas hubungan seksual yang terlalu dini maupun multi seksual partner, sehingga kanker cerviks merupakan sejenis penyakit STD (sexual transmitted diseases).

Untuk mendeteksi secara dini adanya kanker cerviks, dapat dilakukan screening dengan pemeriksaan IVA test maupun Pap smear. Pemeriksaan IVA test dapat mengetahui adanya kecurigaan terhdap adanya kanker cerviks dengan melihat adanya perubahan warna normal pada cerviks. Sedangkan pemeriksaan Pap smear dapat menemukan sel-sel abnormal pada leher rahim, yang dapat dihapus/dicegah pertumbuhannya sebelum mereka berubah menjadi ganas/ kanker.  Dengan pemeriksaan Pap smear secara teratur, kanker serviks (gambaran) mudah untuk dicegah/diatasi.

Prosedur pemeriksaan IVA test lebih sederhana dan lebih murah, namun tidak lebih akurat dibanding pemeriksaan Pap Smear. Sehingga pap smear dinilai lebih baik sebagai metode screening terhadap adanya kanker cerviks. Selama prosedur Pap smear, tenaga kesehatan akan mengambil apusan/goresan dari beberapa sel pada leher rahim Anda pada kaca objek (object glass), kemudian  mengirimkannya ke laboratorium untuk dianalisis.

Screening terhadap adanya kanker cerviks dapat dilakukan pada wanita yang telah melakukan hubungan seksual. Apabila anda melakukan hubungan seksual pertama pada usia kurang dari 20 tahun, maka pemeriksaan Pap smear/ IVA test pertama dapat dilakukan pada usia 21, dan kemudian setiap 3 tahun setelah itu. Jika usia Anda 30 tahun atau lebih, Anda dapat mencoba untuk melakukan pengujian dengan tes HPV setidaknya setiap 5 tahun sekali. Jika Anda dan pasangan beresiko tinggi, maka Anda membutuhkan pengujian vagina untuk klamidia dan gonore setiap tahun.

cervical_smear_slide

Gb.2. Cervical Smear Test (Pap Smear)

Penyebab kanker cerviks adalah virus. Maka dapat dicegah dengan melakukan vaksinasi. Dua vaksin yang telah dikembangkan untuk mencegah kanker cerviks adalah Gardasil dan Cervarix, dapat melindungi perempuan di bawah 26 dari beberapa jenis HPV. Namun vaksin tidak melindungi terhadap semua strain penyebab kanker HPV. Jadi screening rutin dengan pemeriksaan Pap smear (lebih direkomendasikan) masih dianggap penting. Terlebih lagi, tidak semua kanker serviks mulai dengan HPV.

  • Screening Test terhadap Osteoporosis dan Fraktur Tulang

Osteoporosis adalah kondisi ketika tulang seseorang menjadi lemah dan rapuh. Setelah menopause, perempuan mulai kehilangan massa tulang yang lebih banyak, begitu juga laki-laki juga dapat mengalami osteoporosis. Gejala pertama yang sering timbul adalah timbulnya rasa sakit tiba-tiba bahkan setelah jatuh yang ringan, seperti merasakan pukulan atau memutar tiba-tiba. Osteoporosis dapat dicegah dan diobati secara dini.

Screening test osteoporosis dapat dilakukan dengan menggunakan sinar-X jenis khusus dari absorptiometry, disebut dengan dual energy X-ray (DXA). Metode ini dapat mengukur kekuatan tulang dan menemukan osteoporosis sebelum terjadinya pengapuran. Hal ini juga dapat membantu memprediksi risiko terjadinya pengapuran tulang di masa depan. Skrining ini direkomendasikan untuk semua wanita usia 65 tahun ke atas. Jika Anda memiliki faktor risiko untuk osteoporosis, Anda mungkin perlu untuk melakukannya lebih dini.

bone_density_test

Gb.3. Test Kepadatan Tulang (Bone Density Test) menggunakan DXA

  • Screening Test terhadap Kanker Kulit

Terdapat beberapa jenis kanker kulit, dan pengobatan secara dini dapat efektif untuk mengatasinya. Jenis kanker kulit yang paing berbahaya adalah melanoma, yang mempengaruhi sel-sel yang memproduksi pewarna kulit (melanin) seseorang. Kadang-kadang wanita memiliki risiko untuk mewarisi jenis kanker yang dapat timbul akibat terpapar sinar matahari yang berlebih. Sel basal dan sel skuamosa adalah jenis kanker kulit non-melanoma yang umum terjadi.

melanoma

Gb.4. Gambaran Melanoma pada Kulit

Perhatikan setiap perubahan yang menandai kulit Anda, termasuk tahi lalat dan bintik-bintik. Perhatikan perubahan bentuk, warna, dan ukuran. Anda juga harus mempertimbangkan kulit Anda diperiksa oleh dokter kulit atau profesional kesehatan lainnya selama pemeriksaan fisik biasa.

  •  Screening Test terhadap Hipertensi

Saat usia bertambah, maka resiko terjadinya hipertensi/tekanan darah meningkat, tinggi. Hal ini terjadi terutama jika Anda kelebihan berat badan atau memiliki kebiasaan kesehatan tertentu yang buruk. Tekanan darah tinggi dapat mengancam jiwa seseorang, dengan terjadinya serangan jantung atau stroke tanpa gejala apapun. Jadi screening rutin dengan melakukan pemeriksaan tekanan darah dapat mengendalikan hipertensi, sehingga dapat menyelamatkan hidup Anda. Upaya untuk menurunkan tekanan darah Anda juga dapat mencegah bahaya jangka panjang seperti penyakit jantung dan gagal ginjal.

Tekanan darah orang dewasa normal adalah di bawah 120/80 mmHg. Batasan hipertensi adalah 140/90 mmHg. Sebelum terjadinya hipertensi, terjadi prehipertensi, yaitu semacam tanda peringatan dini. Tanyakan kepada tenaga kesehatan Anda seberapa sering tekanan darah Anda perlu diperiksa.

  • Screening Test terhadap Kadar Cholesterol Darah

Kolesterol tinggi dapat menyebabkan plak yang mengakibatkan penyumbatan pembuluh darah arteri. Plak pada pembuluh darah arteri dapat terbentuk selama bertahun-tahun tanpa gejala, akhirnya menyebabkan serangan jantung atau stroke. Tekanan darah tinggi, diabetes, dan merokok juga dapat menyebabkan terbentuknya plak pada pembuluh darah arteri. Hal ini merupakan suatu kondisi yang disebut dengan pengerasan arteri atau aterosklerosis. Perubahan gaya hidup dan penggunaan obat-obatan dapat menurunkan resiko terjadinya arterosklerosis.

atheroma_plaque

Gb.5. Gambaran Arterosklerosis (Pengerasan Pembuluh Darah Arteri)

Untuk memeriksa kadar kolesterol dalam darah Anda, sebelumnya Anda dianjurkan untuk berpuasa selama 12 jam. Kemudian sampel darah Anda akan diambil beberapa cc dari pembuluh darah vena untuk diukur kadar kolesterol total, LDL (kolesterol jahat), HDL (kolesterol baik), dan trigliserida (lemak darah). Jika Anda berusia 20 tahun atau lebih, Anda harus mendapatkan tes ini setidaknya setiap lima tahun.

  • Screening Test terhadap Diabetes Tipe 2

Diabetes dapat menyebabkan jantung atau penyakit ginjal, stroke, kebutaan (akibat dari kerusakan pembuluh darah retina), dan masalah serius lainnya. Anda dapat mengontrol diabetes dengan melakukan diet, olahraga, program penurunan berat badan, dan mengkonsumsi obat-obatan, terutama ketika Anda merasa terkena diabetes lebih awal. Diabetes tipe 2 adalah bentuk paling umum dari penyakit ini. Diabetes tipe 1 biasanya didiagnosis pada anak-anak dan dewasa muda.

diabetic_retinopathy

Gb.6. Gambaran Diabetic Retinopathy

Untuk melakukan screening terhadap kemungkinan diabetes, dilakukan pengukuran kadar gula darah. Anda dianjurkan berpuasa selama delapan jam atau lebih sebelum dilakukan pengambilan sampel darah untuk diuji diabetes. Kadar gula darah 100-125 mg/dL, dapat menunjukkan prediabetes; 126 atau lebih tinggi mungkin berarti diabetes. Tes screening yang lain termasuk tes A1C dan tes toleransi glukosa oral. Jika Anda sehat dan memiliki risiko diabetes yang normal, Anda sebaiknya melakukan screening setiap tiga tahun dimulai pada usia 45. Bicaralah dengan tenaga kesehatan yang merawat Anda tentang dilakukannya pengujian kadar gula darah sebelumnya jika Anda memiliki risiko lebih tinggi, seperti riwayat keluarga diabetes.

  • Screening Test terhadap HIV

HIV adalah virus yang menyebabkan AIDS. Penyakit ini menyebar melalui transfusi darah atau cairan tubuh dengan orang yang terinfeksi, seperti melalui hubungan seks tanpa kondom atau jarum kotor. Ibu hamil dengan HIV dapat menularkan infeksi tersebut kepada bayinya. Sampai saat ini belum ditemukan adanya obat atau vaksin untuk mengatasi AIDS, tetapi pengobatan dini dengan obat anti-HIV dapat membantu sistem kekebalan tubuh melawan virus.

hiv_virus

Gb.7. Virus HIV

HIV dapat menginfeksi penderita tanpa gejala selama bertahun-tahun. Satu-satunya cara untuk mengetahui apakah Anda memiliki virus ini dalam tubuh Anda adalah dengan melakukan tes darah, diantaranya ELISA atau EIA (Enzim-Linked Immunosorbent Assay). Tes ini bekerja dengan mencari antibodi terhadap HIV. Jika Anda mendapatkan hasil positif, Anda akan memerlukan tes kedua untuk mengkonfirmasi hasilnya. Namun, Anda juga dapat teruji negatif bahkan saat Anda telah terinfeksi, sehingga Anda mungkin perlu untuk mengulang test. Setiap orang harus diuji setidaknya sekali antara usia 13-64.

Kebanyakan orang yang baru terinfeksi dapat memberikan hasil test positif sekitar dua bulan setelah terkena virus. Namun dalam kasus yang jarang terjadi, hal tersebut dapat memakan waktu hingga enam bulan untuk mengembangkan antibodi HIV. Jika Anda teri nfeksi HIV dan hamil, diskusikan dengan tenaga kesehatan yang merawat Anda tentang mengurangi risiko untuk anak yang belum Anda lahirkan.

  • Screening Test terhadap Kanker Colorectal

Kanker kolorektal (usus besar) adalah penyebab paling umum kedua penyebab kematian karena kanker setelah kanker paru. Kebanyakan kanker usus besar berasal dari polip (massa abnormal) yang tumbuh pada lapisan dalam usus besar. Polip mungkin saja dan atau mungkin juga tidak menimbulkan keganasan (bersifat kanker). Menghilangkan polip sejak awal sebelum mereka menjadi kanker, dapat mencegah sepenuhnya terhadap timbulnya kanker.

colorectal-colonoscopy

Gb.8.  Gambaran Kanker Usus Besar (Colorectal Cancer) pada Colonoscopy

Tes screening umum untuk mendeteksi adanya kanker kolorektal adalah dengan menggunakan kolonoskopi . Prosedur: dengan dilakukan anastesi ringan, kemudian sebuah alat dimasukkan dalam tabung fleksibel kecil yang dilengkapi dengan kamera ke dalam usus Anda. Jika alat tersebut menemukan polip, alat tersebut dapat menghapusnya (mengangkat) saat itu juga. Tipe lain dari tes ini adalah sigmoidoskopi fleksibel test, yaitu dengan melihat ke bagian bawah usus besar. Jika Anda berada pada posisi risiko rata-rata, maka skrining biasanya dimulai pada usia 50 tahun.

performing_colonoscopy

Gb.9. Prosedur Colonoscopy

  • Screening Test terhadap Glaucoma

Glaukoma terjadi ketika tekanan menumpuk di dalam mata Anda. Tanpa dilakukan pengobatan, tekanan ini dapat merusak saraf optik dan menyebabkan kebutaan. Seringkali, tidak menghasilkan gejala sampai penglihatan Anda sudah rusak.

glaucoma

Gb.10. Gambaran Glaucoma

Seberapa sering Anda harus memeriksakan mata Anda, tergantung pada faktor usia dan risiko. Faktor resiko diantaranya: keturunan Afrika-Amerika/ Hispanic, usia lebih dari 60 tahun, pernah mengalami cedera mata, penggunaan steroid, dan riwayat keluarga dengan glaukoma. Orang tanpa faktor risiko atau gejala penyakit mata harus mendapatkan pemeriksaan mata dasar, termasuk tes untuk glaucoma pada usia 40 tahun.

Untuk merencanakan melakukan screening test kesehatan apa saja yang perlu Anda lakukan, Anda perlu berbicara dengan tenaga kesehatan yang merawat Anda (dokter, perawat, maupun bidan). Beberapa tes, seperti Pap smear dan Sadari, harus menjadi bagian rutin dari perawatan kesehatan setiap wanita. Tes lain mungkin diperlukan berdasarkan faktor risiko Anda. Skrining yang tepat tidak akan selalu mencegah penyakit, tetapi dapat sering menemukan penyakit secara dini untuk memberikan kesempatan terbaik dalam mengatasi penyakit tersebut.

Sumber: Essential Screening Tests Every Woman Needs. Reviewed by Jennifer Robinson, MD on December 07, 2014. Source: http://www.webmd.com/women/ss/slideshow-screening-tests-women?ecd=wnl_day_100115&ctr=wnl-day-100115_nsl-ld-stry&mb=T1mVaXJcjYCVmQRzWKW1ihXFE73IOX1cfwOrpOlq%2fO8%3d

Preparing Pregnancy

Posted on

Menyiapkan Kehamilan, sebuah catatan sederhana untuk Anda yang tengah merencanakan kehamilan. #Kehamilan, suatu proses yang perlu disiapkan dengan matang.

Oleh: Gita Kostania

Kehamilan merupakan suatu proses “pembentukan” calon anak sebelum dilahirkan ke dunia. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi proses kehamilan baik pada ibu maupun janin. Persiapan kehamilan sangat diperlukan bagi seorang perempuan yang akan merencanakan kehamilan. Persiapan kehamilan ini diperlukan guna mendukung proses kehamilan yang sehat dan menghasilkan keturunan yang berkualitas, yang didambakan oleh keluarga, bangsa dan negara.
Persiapan kehamilan idealnya tidak hanya dilakukan oleh calon ibu saja, namun juga calon ayah. Namun pada bahasan ini, penulis menguraikan persiapan kehamilan yang perlu dilakukan oleh calon ibu.
Seorang perempuan yang tengah menyiapkan kehamilan, idealnya mulai melakukannya sejak 3-6 bulan sebelumnya. Hal ini bertujuan agar tubuhnya siap untuk menerima tumbuh kembang janin dalam rahimnya. Secara umum, persiapan tersebut meliputi persiapan fisik dan psikis. Di bawah ini penulis uraikan beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh perempuan calon ibu.

Hamil-Muslim

Pict.Source: http://www.tumblr.com

1. Mengelola Berat Badan dan Kesehatan Fisik
Memiliki tubuh yang terlalu ramping dapat menyebabkan seorang perempuan lebih sulit untuk hamil, begitu juga dengan berat badan yang berlebih. Untuk mengetahui apakah berat badan Anda ideal atau tidak, dapat dihitung melalui Body Mass Index (BMI). Anda dapat mencoba menghitungnya sendiri melalui laman pada tautan berikut. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang pengelolaan berat badan ideal, perlu dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan yang berwenang.
Kontrolah berat badan Anda setidaknya 6 bulan sebelum merencanakan kehamilan. Hindari pula diet dimasa kehamilan, karena pada masa kehamilan tubuh memerlukan banyak nutrisi. Untuk meningkatkan kesehatan fisik dan melancarkan peredaran darah lakukan olah raga secara teratur minimal 30 menit latihan setiap hari. Latihan fisik ini dapat dilakukan dengan berjalan, bersepeda, berenang, maupun jenis olah raga yang lainnya. Hindari olah raga berlebih. Anda juga dapat bergabung dengan kelas latihan prenatal.

2. Mengelola dan Mengkonsumsi Makanan dengan Tepat
Hindari makanan tinggi kalori, tinggi natrium, tinggi gula, dan tinggi lemak, namun rendah nutrisi. Untuk saat ini, fokuslah pada makanan bernutrisi. Penuhilah kebutuhan harian Anda dengan karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air secara seimbang. Tubuh Anda nantinya akan membutuhkan banyak asupan protein, zat besi, kalsium, dan asam folat. Zat-zat tersebut terdapat pada buah-buahan, kacang-kacangan, sayuran hijau, biji-bijian, dan produk susu rendah lemak. Hendaknya kurangi gorengan, keripik, kue, makanan yang dipanggang, soda, dan makanan cepat saji lainnya. Mintalah pasangan Anda untuk mengikuti pola makan Anda untuk membuatnya lebih mudah.
Sumber makanan yang mengandung banyak protein adalah telur. Pastikan bahan makanan tersebut dimasak dengan matang. Telur mentah dapat terkontaminasi oleh bakteri Salmonella berbahaya. Begitu pula untuk bahan makanan berupa ikan maupun daging. Untuk sayuran dan buah, cucilah dengan baik sebelum dikonsumsi. Anda dapat menggunakan metode pencucian menggunakan cuka, garam, maupun bahan lain yang aman. Penggunaan bahan-bahan tersebut bertujuan untuk menghilangkan pestisida dan kuman/bakteri penyebab penyakit.
Saat kehamilan telah terjadi, makanan yang Anda makan selama hamil dapat memungkinkan janin Anda terbiasa dengan rasa tertentu, bahkan sebelum dia merasakan rasa pertama dari makanan tersebut. Penelitian kecil telah menunjukkan bahwa ketika ibu hamil makan bumbu seperti bawang putih, jinten, dan kari, dapat mengakibatkan perubahan rasa pada cairan ketuban. Pada kehamilan, bayi secara teratur akan menelan air ketuban. Pada studi lain menjelaskan bahwa sedikit kemungkinan untuk janin tidak menyukai rasa air ketuban yang terbentuk dari makanan yang ibunya makan. Setelah anak besar, kecil kemungkinan anak menyatakan bahwa dia “tidak suka” pada makanan yang pertama kali dimakan apabila ibu mereka mengkonsumsi jenis makanan tersebut selama kehamilan.
Berdasarkan uraian di atas, hendaknya calon ibu tidak memilah-milih makanan yang bernutrisi. Sedapat mungkin hindari makanan cepat saji/makanan sampah yang minim nutrisi, karena pola makan ibu hamil dapat mempengaruhi tumbuh kembang janin, juga dapat mempengaruhi selera makan anak setelah dilahirkan.

3. Mengkonsumsi Asam Folat
Asam folat membantu mencegah terjadinya cacat pada janin, terutama pada tulang belakang dan otak. Zat ini dapat bekerja dengan baik apabila Anda mengkonsumsinya sebelum Anda hamil dan dalam beberapa minggu pertama kehamilan Anda. Asam folat terdapat pada sayuran hijau, jeruk, dan kacang-kacangan. Namun demikian, dengan mengkonsumsi bahan-bahan makanan tersebut, belum cukup untuk memenuhi kebutuhan asam folat. Perempuan yang merencanakan kehamilan perlu tambahan 400 mikrogram asam folat setiap hari, jumlah ini dapat dipenuhi dengan mengkonsumsi multivitamin dengan tambahan asam folat. Pada awal kehamilan (setelah terjadinya konsepsi sampai trimester pertama) ibu hamil perlu mendapatkan tambahan asam folat dengan dosis 600 mikrogram. Setelahnya tidak cukup bermakna dalam mencegah kecacatan pada janin. Asam folat tetap dibutuhkan selama kehamilan sampai usia kehamilan aterm (cukup bulan) sebagai zat pembentuk hemoglobin dalam darah.

4. Melakukan Screening Kehamilan (Pemeriksaan Pra-Hamil)
Anda (dan pasangan) perlu menemui petugas kesehatan yang kompeten beberapa bulan sebelum Anda merencanakan untuk hamil. Tanyakan tentang program screening pra-hamil dan vaksinasi yang diperlukan, vitamin prenatal yang perlu dikonsumsi, bagaimana mengelola atau mengendalikan kondisi kesehatan Anda, dan obat yang bisa dan tidak bisa dikonsumsi selama kehamilan.
Program screening pra-hamil biasanya meliputi pemeriksaan darah, termasuk didalamnya pemeriksaan golongan darah, hemoglobin dan rhesus factor, screening TORCH, Hepatitis B, Tuberculosis, HIV, penyakit menular seksual, dll. Konsultasikan juga apabila Anda memiliki riwayat penyakit (seperti diabetes atau epilepsy), atau apabila memiliki riwayat penyakit tertentu dalam keluarga (misalnya hemofilia) untuk mengetahui resiko yang mungkin terjadi selama kehamilan atau pada bayi setelah dilahirkan.
Vaksinasi yang disarankan adalah vaksinasi TT, sebagai upaya pencegahan terhadap Tetanus Toxoid pada bayi yang dilahirkan. Jadwal pelaksanaan dapat Anda tanyakan kepada petugas kesehatan yang kompeten.
Pemeriksaan selanjutnya adalah pemeriksaan gigi dan mulut. Kesehatan gigi dan mulut dapat mempengaruhi kondisi kehamilan. Proses kehamilan dapat menimbulkan kerusakan pada email gigi dan juga gusi. Masalah tersebut dapat memungkinkan terjadinya persalinan dini (persalinan sebelum waktunya). Jadi pastikan bahwa kondisi gigi dan mulut Anda dalam keadaan sehat sebelum hamil, dan juga mengeceknya pada petugas kesehatan yang kompeten satu kali selama hamil.

5. Kurangi Konsumsi Kafein
Beberapa ahli menyarankan agar Anda mengkonsumsi kafein tidak lebih dari 200 mg per hari, saat Anda sedang merencanakan kehamilan dan selama kehamilan itu sendiri. Hal ini kira-kira sekitar satu cangkir kopi atau empat cangkir teh. Apabila Anda tidak bisa berhenti dari kebiasaan minum kopi/teh, maka kurangi porsinya atau ganti dengan minuman lain yang bebas kafein.

6. Berhenti Merokok (Aktif dan Pasif)
Di antara kelemahan lainnya, merokok dapat membuat Anda lebih sulit untuk hamil. Menjadi perokok aktif/pasif selama kehamilan dapat meningkatkan kemungkinan masalah seperti kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, dan keguguran. Hal ini juga menempatkan bayi Anda pada risiko sindrom kematian bayi mendadak (SIDS). Ajaklah pasangan Anda, jika dia perokok untuk berhenti merokok, karena juga dapat mempengaruhi tingkat kesuburan pria.

7. Berhenti Minum
Minuman yang dimaksud adalah minuman keras. Mengkonsumsi minuman keras selama kehamilan dapat meningkatkan kemungkinan cacat lahir dan masalah belajar pada anak. Alkohol juga kadang-kadang dapat membuat lebih sulit untuk hamil.
Selain minuman keras, hindari juga minuman bersoda. Minuman bersoda umumnya mengandung banyak gula, asam fosfat, karbonat, bahan pengawet, dan kafein. Dalam satu kaleng minuman bersoda dapat mengandung hingga 12 sendok teh gula. Tak hanya berisiko membuat Anda kelebihan berat badan, terlalu banyak asupan gula juga dapat meningkatkan risiko terkena diabetes gestasional yang mempengaruhi bobot janin menjadi terlalu besar sehingga sulit dilahirkan. Penelitian lain juga membuktikan bahwa gula dapat melemahkan kemampuan sel darah putih untuk melindungi tubuh dari bakteri jahat. Atau dengan kata lain, membuat daya tahan tubuh Anda menurun. Padahal, selama hamil, Anda dituntut untuk selalu sehat dan fit. Kadar asam fosfat yang tinggi dalam minuman bersoda dapat menyebabkan peningkatan asupan fosfor di dalam tubuh. Hal ini pada akhirnya akan meningkatkan risiko terhambatnya penyerapan kalsium dalam tubuh dan berdampak pada penurunan massa tulang.

8. Anggaran untuk Bayi
Bayi membutuhkan banyak perlengkapan. Anda akan membutuhkan pakaian, kursi mobil, dan kereta dorong, dan mungkin breast pump untuk memerah ASI. Buatlah daftar persediaan dan mulai mencari referensi dari sekarang. Perlu diingat, pengeluaran Anda juga akan mencakup pemeriksaan kehamilan dan mungkin perawatan anak.

9. Meninjau Pekerjaan
Jika Anda sebagai perempuan pekerja, pertimbangkan kembali apa yang akan Anda lakukan setelah Anda memiliki bayi. Tinjau ulang tentang cuti melahirkan yang Anda dapatkan. Anda dan pasangan perlu merencanakan tentang pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan. Untuk itu perlu memikirkan pengasuhan anak dan cara pemberian ASI. Beberapa perusahaan/instansi tidak memfasilitasi karyawatinya untuk memberikan ASI eksklusif, untuk itu perlu dipertimbangkan apakah Anda akan mempertahankan posisi Anda ataukah melepaskannya.
Untuk pekerjaan rumah tangga, perlu juga dibicarakan dengan pasangan terkait pembagian tugas di rumah, ataukah akan menyewa jasa asisten rumah tangga. Pastikan bahwa masalah tersebut telah direncanakan dengan matang sebelum kehadiran buah hati.

10. Persiapan Psikis
Proses terjadinya kehamilan melibatkan hormone di dalam tubuh. Produksi hormone tersebut dipengaruhi oleh keadaan psikologis seorang wanita. Hindarilah strees dan cobalah berfikir positif tentang berbagai hal agar kesuburan dapat terjaga dengan baik.
Terjadinya perubahan hormonal selama kehamilan dapat mengakibatkan perubahan psikologis pada ibu hamil. Untuk itu seorang ibu hamil memerlukan dukungan dari suami dan keluarganya. Untuk menghindari stress, lakukanlah hal-hal kecil yang menyenangkan terutama saat bersama suami atau keluarga, misalnya mendengarkan musik sambil mengelus perut ibu.

Selain persiapan di atas, Anda juga perlu mengetahui masa subur Anda berdasarkan siklus menstruasi. Catatlah minimal 6 kali periode menstruasi sebelum Anda merencanakan kehamilan. Catat hari pertama menstruasi terakhir (hari pertama mengeluarkan darah) pada tiap periode/bulannya. Catat pula kejadian-kejadian yang terjadi selama menstruasi. Untuk mengetahui estimasi masa subur Anda, Anda dapat mengunjungi laman pada tautan berikut.

Referensi:
Anonim. 2014. Artikel Parenting Indonesia: Bolehkah Ibu Hamil Konsumsi Minuman Soda?. http://www.parenting.co.id/hamil/bolehkah+ibu+hamil+konsumsi+minuman+soda%3F.
Todd, Nivin. 2015. Pregnancy Slideshows on WebMD: Your Pre-Pregnancy Checklist. http://www.webmd.com/baby/ss/slideshow-prepregnancy-checklist.

Imunisasi, Perlukah ?

Posted on

“Ini pendapat saya mengenai ‘imunisasi’ atas diskusi kemarin sore dengan seorang sahabat, ibu muda P2. Antara pro dan kontra, saya berada di tengah-tengah”.

 bahaya-imunisasi-dan-vaksin

Imunisasi merupakan suatu pemberian/pemindahan/transfer antibodi yaitu daya tahan tubuh dari komponen plasma donor yang sudah sembuh dari penyakit tertentu untuk menimbulkan kekebalan pasif yaitu memberikan perlindungan sementara dari penyakit. Pemberian kekebalan pasif ini, umumnya dilakukan dengan memberikan vaksin. Sehingga imunisasi dapat juga disebut vaksinasi, meskipun keduanya berbeda. Vaksinasi adalah pemberian vaksin (antigen dari virus/bakteri) yang dapat merangsang imunitas (antibodi) dari sistem imun di dalam tubuh. Semacam memberi “infeksi ringan”. Kekebalan tubuh juga dapat diperoleh secara aktif. Kekebalan aktif atau imunitas aktif adalah perlindungan dari penyakit sebagai akibat dari paparan sebelumnya dengan agen penyebab penyakit menular atau bagian dari agen infeksi (antigen). Perlindungan ini dapat dihasilkan setelah mendapatkan penyakit atau setelah menerima vaksin yang mencegah penyakit tersebut.

Terdapat pro dan kontra tentang pemberian imunisasi ini baik pada bayi-balita maupun dewasa. Dari testimony yang penulis dapatkan via googling, semuanya berimbang. Ada juga testimony dari pengalaman nyata yang didapatkan dari keluarga/teman/tetangga/pasien dari penulis tentang pendapatnya mengenai imunisasi. Ibu yang pro imunisasi memang umumnya anaknya terbukti baik/sehat tidak tertular penyakit infeksi berbahaya (mis: campak, rubella, dll), walaupun ada beberapa yang tetap terkena penyakit ifeksi, namun biasanya karena disertai dengan masalah gizi buruk dan atau karena faktor lain yang tidak diketahui. Beberapa yang kontra (tidak memberikan imunisasi) mengatakan bahwa anaknya sehat-sehat saja, tidak tertular penyakit infeksi berbahaya, bahkan ada juga yang jauh lebih sehat dari anak yang diberi imunisasi. Namun ada juga yang terkena penyakit infeksi berbahaya (campak) sebelum usianya genap satu tahun. Analisis yang penulis simpulkan, hal ini karena anak tersebut tidak diberikan ASI secara eksklusif (termasuk memberikan colostrum pada awal kelahiran bayi). ASI eksklusif adalah pemberian ASI saja tanpa tambahan apapun (susu formula, madu, bubur, dll) selama 6 bulan.

Note: Perlu diketahui bahwa, meskipun bayi tidak didiagnosis mengalami penyakit infeksi berat, namun bayi rentan mengalami demam (panas tinggi). Sebenarnya hal ini merupakan reaksi yang wajar pada sistem metabolisme bayi. Paling tidak bayi akan mengalami 12 kali demam dalam satu tahun (baik yang imunisasi atau tidak).

Semua literature menyatakan bahwa ASI adalah makanan terbaik bagi bayi dengan kandungan gizi lengkap dan mengandung kekebalan yang dibutuhkan anak. Perintah menyusui juga terdapat dalam kitab suci Al-Qur’an:

1. QS. Luqman 14 : “…dan menyapihnya dalam dua tahun…”
2. QS Al-Baqarah 233: “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan”.

Menyusui (menurut Al-Qur’an) dapat disebut sebagai “imunisasi nabawi”. Jadi, disimpulkan bahwa kekebalan alamiah (tanpa tambahan zat ‘berbahaya’) akan didapat hanya dengan menyusui bayi dengan tepat seperti imunisasi menggunakan vaksin.

Kembali lagi pada persoalan awal tentang perlu tidaknya imunisasi, penulis simpulkan bahwa apabila kehidupan kita dikembalikan pada tuntutan agama, inshaaAllah semua akan tertata dengan baik. Imunisasi merupakan suatu program dari WHO (World Health Organization), yang jika penulis simpulkan dari beberapa sumber yang didapat, hal ini dapat dikaitkan dengan upaya konspirasi suatu bangsa yang ingin menguasai dunia. Ya, kelihatannya ‘lebay’, namun apabila ditelaah ulang mungkin Anda juga akan memahaminya.

Sebagai seorang tenaga kesehatan dan seorang perempuan, penulis menyatakan bahwa antara pro dan kontra, penulis berada di tengah-tengahnya. Melalui blog ini, penulis berusaha menyampaikan alasan-alasan tentang perlu tidaknya pemberian imunisasi secara berimbang.

Pendapat yang Pro (Perlu Imunisasi)

  1. Mencegah lebih baik daripada mengobati. Karena telah banyak kasus ibu hamil membawa virus Toksoplasma, Rubella, Hepatitis B yang membahayakan ibu dan janin. Bahkan bisa menyebabkan bayi baru lahir langsung meninggal.
  2. Vaksinasi penting dilakukan untuk mencegah penyakit infeksi berkembang menjadi wabah seperti kolera, difteri, dan polio.
  3. Walaupun kekebalan tubuh sudah ada, akan tetapi kita hidup di negara berkembang yang notabene standar kesehatan lingkungan masih rendah. Apalagi pola hidup di zaman modern. Belum lagi kita tidak bisa menjaga gaya hidup sehat. Maka untuk antisipasi terpapar penyakit infeksi, perlu dilakukan vaksinasi.
  4. Efek samping yang membahayakan bisa kita minimalisasi dengan tanggap terhadap kondisi ketika hendak imunisasi dan lebih banyak cari tahu jenis-jenis merk vaksin serta jadwal yang benar sesuai kondisi setiap orang.
  5. Jangan hanya percaya isu-isu tidak jelas dan tidak ilmiah. Contohnya vaksinasi MMR menyebabkan autis. Padahal hasil penelitian lain yang lebih tersistem dan dengan metodologi yang benar, kasus autis itu ternyata banyak penyebabnya. Penyebab autis itu multifaktor (banyak faktor yang berpengaruh) dan penyebab utamanya masih harus diteliti.
  6. Jika ini memang konspirasi atau akal-akalan negara barat, mereka pun terjadi pro-kontra juga, terutama vaksin MMR. sampai sekarang negara barat juga tetap memberlakukan vaksin sesuai dengan kondisi lingkungan dan masyarakatnya.
  7. Mengapa beberapa negara barat ada yang tidak lagi menggunakan vaksinasi tertentu atau tidak sama sekali? Karena standar kesehatan mereka sudah lebih tinggi, lingkungan bersih, epidemik (wabah) penyakit infeksi sudah diberantas, kesadaran dan pendidikan hidup sehatnya tinggi. Mereka sudah mengkonsumsi sayuran organik. Bandingkan dengan negara berkembang. Sayuran dan buah penuh dengan pestisida jika tidak bersih dicuci. Makanan dengan zat pengawet, pewarna, pemanis buatan, mie instant, dan lain-lain. Dan perlu diketahui jika kita mau masuk ke beberapa negara maju, kita wajib divaksin dengan vaksin jenis tertentu. Karena mereka juga tidak ingin mendapatkan kiriman penyakit dari negara kita.
  8. Ada beberapa fatwa halal dan bolehnya imunisasi. Ada juga sanggahan bahwa vaksin halal karena hanya sekedar katalisator dan tidak menjadi bagian vaksin. Contohnya Fatwa MUI yang menyatakan halal. Dan jika memang benar haram, maka tetap diperbolehkan karena mengingat keadaan darurat, daripada penyakit infeksi mewabah di negara kita.

Pendapat yang Kontra (Tidak Perlu Imunisasi)

  1. Vaksin haram karena menggunakan media ginjal kera, babi, aborsi bayi, darah orang yang tertular penyakit infeksi yang notabene pengguna alkohol, obat bius, dan lain-lain. Ini semua haram dipakai secara syari’at.
  2. Efek samping yang membahayakan karena mengandung mercuri, thimerosal, aluminium, benzetonium klorida, dan zat-zat berbahaya lainnya yg akan memicu autisme, cacat otak, dan lain-lain.
  3. Lebih banyak bahayanya daripada manfaatnya, banyak efek sampingnya.
  4. Kekebalan tubuh sebenarnya sudah ada pada setiap orang. Sekarang tinggal bagaimana menjaganya dan bergaya hidup sehat.
  5. Konspirasi dan akal-akalan negara barat untuk memperbodoh dan meracuni negara berkembang dan negara muslim dengan menghancurkan generasi muda mereka.
  6. Bisnis besar di balik program imunisasi bagi mereka yang berkepentingan. Mengambil uang orang-orang muslim.
  7. Menyingkirkan metode pengobatan dan pencegahan dari negara-negara berkembang dan negara muslim seperti minum madu, minyak zaitun, kurma, dan habbatussauda.
  8. Adanya ilmuwan yang menentang teori imunisasi dan vaksinasi.
  9. Adanya beberapa laporan bahwa anak mereka yang tidak di-imunisasi masih tetap sehat, dan justru lebih sehat dari anak yang di-imunisasi.

Apabila Anda termasuk yang pro imunisasi, maka tetaplah berfikir positif, jadikan upaya tersebut sebagai ikhtiar terbaik untuk mendapatkan status kesehatan yang diinginkan. Namun apabila termasuk yang kontra, selalu perhatikan status gizi (bayi-balita, dan dewasa), dan hiduplah secara seimbang. Penyakit (infeksi) tidak akan menjangkiti tubuh manusia apabila tubuh tersebut memiliki daya tahan tubuh yang baik. Untuk bayi, berikan ASI eksklusif (termasuk colostrum: ASI berwarna kekuningan yang keluar pertama) selama 6 bulan penuh. Dan sempurnakanlah menyusui sampai usia 2 tahun.
Apapun pilihan kita, sebagai insan yang beriman pasti tidak akan pernah ragu akan kebenaran Al-Qur’an. Terima kasih, semoga bermanfaat.

By. Oshigita Sweet, berbagai sumber.

Note:
Bagi yang kontra terhadap imunisasi (konvensional), klik …

Selengkapnya, silahkan mengunjungi laman:

  1. http://gizanherbal.wordpress.com/2011/02/09/18/
  2. http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/pro-kontra-hukum-imunisasi-dan-vaksinasi.html
  3. http://ummushofi.wordpress.com/2010/03/14/air-susu-ibu-asi-dan-keutamaannya-dalam-al-quran-dan-as-sunnah/
  4. http://www.bamah.net/2011/08/imunisasi-skandal-sadis-konspirasi-medis/

Konsep Imunisasi Halal

Posted on Updated on

1. Memberikan asupan nutrisi atau zat gizi atau makanan tertentu yang memaksimalkan pembangunan dan pemeliharaan sistem imun atau kekebalan tubuh manusia.

2. Memberikan asupan nutrisi atau zat gizi atau makanan tertentu yang meminimalkan dan menghilangkan zat yang bersifat menurunkan kerja sistem imun atau kekebalan tubuh manusia.

3. Menjauhkan dan menghentikan asupan nutrisi yang bersifat menurunkan pembangunan dan pemeliharaan sistem imun atau kekebalan tubuh manusia.

4. Tidak memberikan vaksinasi yang mengandung Toksin/Racun bahan berbahaya yang menjadi ancaman kesehatan manusia.
a. Kimiawi Sintetis
b. Logam Berat (Heavy Metal)
c. Hasil Metaboit parsial
d. Toksin Bakteri
e. Komponen dinding sel

5. Tidak memberikan vaksinasi dan obat-obatan yang mengandung bahan yang haram secara syari’at.
a. Alkohol dan turunannya, yang bersifat seperti alkohol, yaitu yang apabila dikonsumsi secara banyak akan memabukkan.
b. Tidak mengandung Darah, daging Babi, dan hewan yang ketika disembelih tidak menyebutkan nama Allah.
c. Tidak daging yang diharamkan menurut syari’at, contoh: Binatang Buas, Bertaring, bangkai dll.
d. Tidak dikembangbiakkan di dalam darah hewan apapun, daging babi, dan di dalam makhluk hidup yang diharamkan menurut syari’at.

6. Membiasakan untuk mengkonsumsi menu makanan sehari-hari yang bersifat membangun sistem kekebalan tubuh manusia.

7. Membiasakan untuk tidak mengkonsumsi menu makanan sehari-hari yang bersifat menururnkan sistem kekebalan tubuh manusia.
Copas dari laman: http://imunisasihalal.wordpress.com/konsep-imunisasi-halal-halalan-thayyiban/

Keluhan Hiperventilasi (Sesak Nafas) pada Ibu Hamil

Posted on Updated on

Oleh: Gita Kostania

sesak nafas

Hiperventilasi ditandai dengan nafas yang cepat dan keluhan sesak nafas, pada ibu hamil hal ini merupakan reaksi yang fisiologis (non patologis). Hiperventilasi disebabkan oleh peningkatan hormone progesterone selama kehamilan, berakibat langsung pada sistem pernafasan dimana kadar karbon dioksida berada pada kadar yang rendah dan oksigen berada pada kadar yang tinggi. Peningkatan kadar oksigen yang tinggi bermanfaat bagi janin. Peningkatan metabolisme yang terjadi selama kehamilan menyebabkan peningkatan kadar karbon dioksida, terjadinya hiperventilasi berdampak pada berkurangnya kadar karbon dioksida dalam darah. Ibu hamil dapat mulai merasakan efek progesterone ini pada awal trimester kedua.

Keluhan sesak nafas merupakan suatu ketidaknyamanan yang semakin berat dirasakan ibu hamil pada trimester ketiga. Selama periode ini, uterus semakin membesar dan menekan diafragma. Oleh sebab itu, diafragma bergeser (berelevasi) kira-kira 4 cm selama kehamilan. Meskipun pelebaran diameter transversal dari rongga dada (thoraks) hanya beberapa cm, namun hal ini cukup mengganti pergeseran diafragma dan mengurangi fungsi kapasitas residual dan volume residual udara. Kombinasi penggunaan tekanan pada diafragma (memungkinkan penurunan fungsi volume residual) menyebabkan sedikit kesulitan dalam bernafas (nafas sesak). Pada beberapa ibu hamil, merespon keadaan fisiologis ini dengan hiperventilasi.

Untuk mengatasi hiperventilasi maka dapat diatasi dengan: a) penjelasan pada ibu hamil tentang keadaan fisiologis hal ini; b) menasehati ibu hamil untuk dengan sengaja secara berhati-hati mengatur pernafasannya (kecepatan dan kedalaman) dalam kondisi normal ketika ibu menyadari terjadinya hiperventilasi; c) meringnkan gejala sesak nafas sebagai faktor akibat, dijelaskan pada paragraph selanjutnya.

Upaya untuk mengatasi keluhan sesak nafas adalah dengan menyediakan ruang yang cukup untuk isi abdomen dan thoraks, dengan mengurangi tekanan pada diafragma dan memfasilitasi fungsi paru-paru, yaitu: a) secara periodic anjurkan ibu hamil untuk berdiri dan melakukan gerakan peregangan pada tangannya ke atas kepala disertai menarik nafas panjang; b) menganjurkan ibu hamil untuk membiasakan diri dengan postur tubuh yang baik dan hindari membungkukkan badan (badan selalu tegak); c) ajari ibu hamil untuk melakukan pernafasan intercostal; d) ajarkan ibu hamil untuk melakukan peregangan yang sama saat duduk/berdiri dengan ketika berbaring di tempat tidur; e) jelaskan terjadinya nafas sesak, kecemasan atau ketakutan dapat mengurangi respon terhadap hiperventilasi.

Referensi:

  1. Bobak, Lowdermilk, Jensen (Alih bahasa: Wijayarini, Anugerah). 2005. Buku Ajar Keperawatan Maternitas, edisi 4. EGC, Jakarta.
  2. Fraser, Cooper (Alih bahasa: Rahayu, et.al.). 2009. Myles, Buku Ajar Bidan, edisi 14. EGC, Jakarta.
  3. Varney. 1997. Varney’s Midwifery, 3rd Edition. Jones and Bartlett Publishers, London UK.
  4. Varney, Kriebs, Gegor. 2002. Buku Ajar Asuhan Kebidanan, Edisi 4, Volume 1. EGC, Jakarta.

Bagian dari postingan sebelumnya

Baca juga:

http://www.health-and-parenting.com/shortness-of-breath-in-pregnancy/

http://labspace.open.ac.uk/mod/oucontent/view.php?id=452206&section=9.8

Nyeri Punggung Bawah (Pinggang) pada Kehamilan

Posted on

Oleh: Gita Kostania

Nyeri punggung bawah merupakan nyeri pinggang pada daerah lumbosacral. Intensitas nyeri biasanya bertambah seiring dengan bertambahnya usia kehamilan, karena hasil dari perubahan pusat gravitasi dari perubahan postur tubuhnya (hiperlordosis), yaitu akibat dari penambahan barat dari pembesaran uterus. Jika ibu hamil berusaha untuk memperbaiki posturnya, dia akan berjalan condong ke arah belakang dari peningkatan lordosis. Lengkungan ini mengakibatkan ketegangan pada otot belakang dan menyebabkan nyeri yang sangat.

sakit pinggang

Gambar 1. Gambaran terjadinya Nyeri Pinggang, pada daerah Lumbosacral (Lumbar dan Pelvic)

Ketidaknyamanan ini dapat meningkat apabila otot abdominal ibu hamil lemah, otot-otot ini gagal dalam menyokong pembesaran uterus. Kelemahan otot abdominal ini, umum dijumpai pada grande multipara dimana otot-otot abdomennya tidak kembali seperti semula setelah beberapa kali melahirkan. Pada primigravida biasanya otot abdomennya lebih elastis karena otot-ototnya belum pernah teregang sebelumnya. Nyeri otot balakang (pinggang) dengan demikian akan meningkat seiring dengan jumlahnya paritas.

Nyeri pinggang juga merupakan akibat dari posisi menekuk/membungkuk yang berlebihan, berjalan tanpa periode istirahat, mengangkat benda berat khususnya apabila dikerjakan saat ibu lelah. Kondisi-kondisi tersebut menyebabkan ketegangan pada otot-otot pinggang. Prinsip body mekanik dapat dilakukan untuk menghindari ketegangan otot ini. Terdapat dua prinsip untuk dilakukan, yaitu: a) menekukkan kaki daripada membungkuk saat mengangkat/mengambil benda yang berat, sehingga kaki (paha) yang lebih menahan beban dan lebih meregang daripada otot pinggang; b) letakkan salah satu kaki / tempatkan salah satu kaki dengan lebih rendah / di depan kaki yang satunya ketika akan membungkuk (mengambil benda yang berada di bawah/lantai), sehingga memperlus tumpuan untuk keseimbangan ketika akan bangkit/berdiri dari posisi sebelumnya.

Tindakan lain yang dapat dilakukan untuk mengatasi ketidaknyamanan ini adalah: a) biasakan postur tubuh yang baik; b) lakukan prinsip body mekanik saat akan mengangkat beban; c) hindari membungkuk yang berlebihan, mengangkat beban terlalu berat atau berjalan kaki tanpa periode istirahat; d) menggoyang daerah pelvis; e) gunakan sepatu berhak rendah, hak sepatu yang tinggi menyebabkan ketidakstabilan pusat grafitasi dan menyebabkan terjadinya hiperlordosis; f) apabila nyeri bertambah, maka penggunaan korset penopang sangat dianjurkan; g) enghangatkan pinggang, seperti: mandi air hangat, menggunakan alat pemanas (kompres hangat di daerah pinggang), atau duduk pada shower yang hangat; h) menggosok/memijat pinggang; i) saat istirahat/tidur: gunakan kasur yang tidak terlalu empuk (keras dianjurkan), saat berbaring posisikan pinggang dengan diganjal bantal untuk meluruskan pinggang dan meringankan tarikan/ketegangan pada otot-otot belakang.

Referensi:

  1. Bobak, Lowdermilk, Jensen (Alih bahasa: Wijayarini, Anugerah). 2005. Buku Ajar Keperawatan Maternitas, edisi 4. EGC, Jakarta.
  2. Fraser, Cooper (Alih bahasa: Rahayu, et.al.). 2009. Myles, Buku Ajar Bidan, edisi 14. EGC, Jakarta.
  3. Varney. 1997. Varney’s Midwifery, 3rd Edition. Jones and Bartlett Publishers, London UK.
  4. Varney, Kriebs, Gegor. 2002. Buku Ajar Asuhan Kebidanan, Edisi 4, Volume 1. EGC, Jakarta.

Bagian dari postingan sebelumnya …

Nyeri Ligamentum Rotundum pada Kehamilan

Posted on

Oleh: Gita Kostania

Ligamentum rotundum terletak pada sisi uterus, yaitu di bawah dan di depan insersi tuba falopii. Ligamentum ini melintasi/bersilangan pada lipatan peritoneum, melewati saluran pencernaan dan memasuki bagian depan (atas) labia mayora pada sisi atas perineum. Ligament terdiri atas otot halus yang meluas yang terhubung dengan otot halus uterus. Jaringan otot ini memungkinkan ligamentum rotundum mengalami hipertropi selama kehamilan, dan merupakan pokok peregangan dari pembesaran uterus. Secara anatomi, hal ini menyebabkan ligamentum rotundum dapat meningkatkan lebar pembesaran uterus memasuki abdomen. Nyeri pada ligamentum rotundum diakibatkan oleh peregangan dan tekanan yang besar pada ligament oleh pembesaran uterus. Hal ini merupakan ketidaknyamanan yang umum, dan harus dapat dibedakan dari gangguan gastrointestinal dan penyakit-penyakit pada organ-organ abdomen (appendicitis, peradangan saluran kemih, ulkus peptikum, dll). Ciri-ciri yang menjadi perbedaan adalah peningkatan nyeri pada daerah abdomen, dimana dari beberapa kondisi yang telah disebutkan tadi, nyeri ligamentum rotundum ini sangat khas, yaitu hanya pada ligament.

ligamentum rotundum

Gambar 1. Ligamentum Rotundum (LR) pada Kehamilan

Tindakan untuk mengatasi ketidaknyamanan ini tidak selalu efektif. Nyeri ligamentum rotundum merupakan salah satu ketidaknyamanan yang sering dikeluhkan oleh ibu hamil. Penjelasan tentang fisiologi terjadinya nyeri paling tidak dapat mengurangi/meringankan kecemasan/ketakutan dan dapat membantunya dalam mengatasi nyeri. Upaya tambahan untuk mengurangi nyeri ligamentum rotundum, yaitu: a) menekuk lutut sampai menyentuh abdomen; b) mengalihkan nyeri untuk mengurangi peregangan pada ligament; c) memiringkan pelvis; d) mandi air hangat; e) gunakan bantalan pemanas pda area yang terasa sakit hanya jika tidak terdapat kontraindikasi; f) gunakan sebuah bantal untuk menopang uterus dan bantal lainnya yang diletakkan di antara lutut sewaktu dalam posisi berbaring miring; g) menggunakan korset penopang abdomen.

Referensi:

  1. Bobak, Lowdermilk, Jensen (Alih bahasa: Wijayarini, Anugerah). 2005. Buku Ajar Keperawatan Maternitas, edisi 4. EGC, Jakarta.
  2. Fraser, Cooper (Alih bahasa: Rahayu, et.al.). 2009. Myles, Buku Ajar Bidan, edisi 14. EGC, Jakarta.
  3. Varney. 1997. Varney’s Midwifery, 3rd Edition. Jones and Bartlett Publishers, London UK.
  4. Varney, Kriebs, Gegor. 2002. Buku Ajar Asuhan Kebidanan, Edisi 4, Volume 1. EGC, Jakarta.

Bagian dari postingan sebelumnya …