Asuhan Kebidanan Berkesinambungan

Posted on

Oleh: Gita Kostania

Materi ini ditulis sebagai bekal mahasiswa dan pembimbing dalam pelaksanaan Praktik Kebidanan Semester VII (Praktik Kebidanan Komunitas Komprehensif), mahasiswa DIV Kebidanan Semester VII, Prodi DIV Kebidanan Poltekkes Kemenkes Surakarta.

A. Konsep Asuhan Kebidanan Berkesinambungan

Asuhan berkesinambungan berhubungan dengan kualitas asuhan sepanjang waktu. Terdapat dua perspektif terakit asuhan berkesinambungan. Secara tradisional, asuhan berkesinambungan idealnya didasarkan pada pengalaman pasien dalam pemberian asuhan berkelanjutan dengan seorang bidan maupun tenaga kesehatan lain. Sedangkan bagi penyedia layanan kesehatan dalam sistem asuhan terpadu secara vertical, asuhan berkesinambungan adalah pemberian layanan kesehatan tanpa batas kepada pasien, melalui layanan terintegrasi, koordinasi, dan tukar informasi antara pemberi asuhan yang berbeda. (Gulliford, 2006).

Asuhan kebidanan berkesinambungan mempunyai definisi yang beragam. Hodnett (2008) merangkum definisi asuhan kebidanan berkesinambungan menjadi 4 hal:

  1. Suatu pernyataan komitmen untuk mempopulerkan filosofi asuhan kebidanan. Bahwa proses kehamilan dan persalinan merupakan suatu hal yang fisiologis.
  2. Kepatuhan terhadap standar asuhan perawatan selama kehamilan dan atau persalinan.
  3. Suatu sistem dimana seorang pasien yang telah pulang dari Rumah Sakit, secara rutin dirujuk ke layanan komunitas.
  4. Perawatan yang sebenarnya oleh pemberi perawatan atau kelompok kecil pemberi perawatan (yang sama), selama kehamilan, persalinan dan kelahiran bayi, dan periode postpartum.

Asuhan kebidanan berkesinambungan dapat diberikan melalui model perawatan berkelanjutan oleh bidan, yang mengikuti perempuan sepanjang masa kehamilan, kelahiran dan masa pasca kelahiran, baik yang beresiko rendah maupun beresiko tinggi, dalam setting pelayanan di komunitas, praktik mandiri bidan, maupun rumah sakit. (Sandall, 2010).

Guilliland&Pairman (2010), menjelaskan bahwa asuhan kebidanan berkesinambungan adalah asuhan kebidanan yang diberikan oleh bidan (dan tim nya) kepada perempuan sepanjang keseluruhan pengalaman persalinannya. Asuhan ini menitikberatkan pada hubungan satu-satu, antara pasien dan pemberi asuhan, dengan harapan dapat terbangun “parnership” yang baik dengan pasien, sehingga terbina hubungan saling percaya. Upaya tersebut dapat dimulai dari kehamilan dan seterusnya (bersalin dan postpartum, serta masa menyusui), yang juga merupakan waktu yang paling tepat untuk bidan bekerja bersama setiap perempuan untuk mendiskusikan harapannya dan ketakutannya akan proses kelahiran dan proses menjadi ibu, serta membangun kepercayaan dirinya.

Bidan juga bekerja bersama keluarga dalam memberikan asuhan untuk mengatasi ketakutan yang dirasakan perempuan dan mencegah terjadinya kesalahpahaman. Proses pemecahan masalah dapat menjadi semakin mudah, karena setiap perempuan dapat mengeksplorasi informasi dengan baik dan membuat keputusan terbaik untuk dirinya. Bidan dan perempuan mempunyai waktu yang cukup untuk mendiskusikan tentang persalinan, nyeri dan ketidaknyamanan, dampak terhadap lingkungan, dan ketidakpastian dan kerumitan yang mungkin timbul. Jadi idelanya pada saat perempuan memasuki fase persalinan, dia mempunyai kerelaan dan kepercayaan diri untuk membiarkan dan percaya pada tubuhnya menjalankan proses persalinan.

Pelaksanaan asuhan kebidanan berkesinambungan berhubungan dengan berkurangnya penggunaan teknologi dan intervensi farmakologi dalam persalinan. (Pairman, 2011). Asuhan kebidanan berkesinambungan dapat meningkatkan kesehatan ibu dan bayi, dengan efek samping minimal. Persentase persalinan spontan juga meningkat. (Sandall, 2010).

Model asuhan kebidanan berkesinambungan secara umum bertujuan untuk meningkatkan kualitas asuhan berkelanjutan sepanjang siklus kehidupan. Sandall (2010), menguraikan syarat asuhan berkesinambungan, yaitu:

  1. Kesinambungan manajemen. Merupakan pendekatan pengaturan kasus yang konsisten dan jelas, yang responsif dalam memenuhi kebutuhan klien. Manajemen juga melibatkan komunikasi berdasarkan fakta dan penilaian dalam tim, institusi pendidikan, dan batasan profesional kebidanan, serta antara pemberi pelayanan dan pasien. Manajer dalam asuhan berkesinambungan adalah bidan. Asuhan kebidanan berkesinambungan dapat dilakukan oleh 4 orang, dengan melibatkan mahasiswa kebidanan dan kader kesehatan.
  2. Kesinambungan informasi. Semua tim yang terlibat dalam pemberian asuhan mempunyai informasi yang cukup tentang keadaan kliennya untuk dapat memberikan asuhan yang tepat. Informasi untuk klien, difokuskan pada ketersediaan waktu untuk memberikan informasi yang relevan (terkait asuhan yang diberikan). Semuanya penting, baik untuk para manajer (bidan) dan pasien.
  3. Kesinambungan hubungan. Hubungan berarti “hubungan terapeutic” antara pasien dan tenaga kesehatan, sepanjang waktu. Hubungan personal yang tetap terjaga sepanjang waktu, dapat mempunyai efek yang baik pada pasien dan hasil asuhannya. Untuk memenuhi kaidah ini, asuhan berkesinambungan hendaknya dilakukan oleh satu orang tenaga kesehatan yang sama.

Dalam kasus rujukan dari layanan primer ke sekunder yang terjadi selama proses persalinan, bidan harus menyerahkan asuhannya kepada petugas yang berwenang, dan diutamakan untuk tetap tinggal dan menemani perempuan selama persalinan di tempat rujukan. Perencanaan tempat bersalin dan antisipasi tempat rujukan harus diperhatikan sebagai konsep yang penting, yang dibicarakan selama asuhan kehamilan. (Jonge, 2014).

B. Perencanaan Pelaksanaan Asuhan Kebidanan Berkesinambungan dalam Setting Praktik Klinik Kebidanan

Asuhan kebidanan berkesinambungan yang dilakukan sebagai project studi kasus Praktik Kebidanan Semester VII ini dilakukan selama 6 minggu, pada ibu hamil trimester III (mulai usia kehamilan minimal 35 minggu) yang diikuti sampai dengan proses persalinan dan masa nifas minimal kunjungan nifas ke-2 (KF-2).

Tujuan program ini adalah memberikan pengalaman kepada mahasiswa dalam mengupayakan asuhan berkesinambungan kepada wanita sepanjang siklus kehidupan.

Dalam pelaksanaan asuhan kebidanan berkesinambungan ini, satu orang ibu hamil dikelola oleh satu tim care-provider, yang terdiri atas 3 orang, yaitu:

  1. Bidan (CI), sebagai manager kasus. Bertugas untuk menentukan sasaran studi kasus. Tidak ada syarat khusus terkait karakteristik perempuan untuk dijadikan subjek. Sebaiknya subjek tersebut dapat berkomunikasi dengan baik, yang juga mendapatkan dukungan dari keluarga.
  2. Mahasiswa bidan, sebagai pelaksana asuhan. Asuhan dapat mulai dilaksanakan setelah manager kasus merekomendasikan subjek studi kasus. Mahasiswa membuat rencana asuhan yang didiskusikan dengan manager dan dikonsultasikan dengan supervisor.
  3. Pembimbing (dosen), sebagai supervisor. Supervisor bertugas memantau perkembangan kasus dan juga membimbing mahasiswa dalam memberikan asuhan kebidanan.

Proses pelaksanaan asuhan kebidanan berkesinambungan secara singkat dapat digambarkan sebagai berikut:

 

Gambar 2.1. Gambar Siklus Pelaksanaan Asuhan Kebidanan Berkesinambungan

Berdasarkan gambar di atas, dapat dijelaskan:

  1. Pada awal praktek, mahasiswa melakukan kesepakatan bersama dengan pembimbing lahan (CI/ Bidan) melalui kontrak belajar. Bidan menentukan subyek studi kasus, kemudian mendiskusikan dengan mahasiswa terkait gambaran karakteristik klien dan rencana asuhan jangka panjang.
  2. Bidan beserta mahasiswa yang didampingi dosen pembimbing (supervisor) bersama dengan klien, mendiskusikan program asuhan yang akan diberikan. Bidan menjelaskan program asuhan, mahasiswa membuat kontrak asuhan dan juga membangun kepercayaan dengan klien dan keluarga.
  3. Pelaksanaan asuhan kebidanan berkesinambungan selama kehamilan, bersalin, dan nifas. Pelaksanaan asuhan berdasarkan manajemen asuhan kebidanan, dengan melaksanakan asuhan sesuai standar asuhan (Kepmenkes No. 938/ Menkes/ SK/ VIII/ 2007), dan pendokumentasian asuhan kebidanan menggunakan model SOAP notes. Pengkajian awal didokumentasikan secara lengkap, untuk kemudian perkembangan asuhan dapat dicatat dalam format tabel. Dalam melaksanakan asuhan, mahasiswa mengkomunikasikannya dengan bidan sebagai manager kasus untuk berdiskusi terkait hasil pengkajian, diagnosis, rencana asuhan, implementasi dan evaluasi asuhan. Mahasiswa juga melaporkan asuhan yang telah diberikan kepada pembimbing sebagai supervisor untuk mendiskusikan hal-hal yang perlu ditindaklanjuti. Selama asuhan berlangsung, minimal sebanyak satu kali, dosen sebagai supervisor melakukan kunjungan rumah kepada klien bersama dengan mahasiswa.
  4. Evaluasi program dilakukan di akhir asuhan oleh semua pihak, baik klien dan keluarga, bidan, mahasiswa, dan pembimbing. Evaluasi bertujuan untuk menggali sejauhmana keberhasilan asuhan berkesinambungan.

REFERENSI

Guilliland K, Pairman S. 2010. The Midwifery partnership: a Model of Practice (2nd ed.) New Zaeland College of Midwives, Christchurch.

Gulliford M, Naithani S, Morgan M. 2006. What is Continuity of Care?. Journal Health Service policy, 2006, 11: 248.

Hodnett ED. 2008. Review Article: Continuity of Caregivers for Care During Pregnancy and Childbirth. The Cochrane Collaboration, John Wiley Publisher.

Jonge AD, et.al. 2014. Continuity of care: What Matters to Women when They are Referres from Primary to Secondary Care during Labour?. BMC Pregnancy and Childbirth 2014, 14:103.

Pairman S, Tracy S, Thorogood C, et.al. 2011. Midwifery: Preparation for Practice. Churchill Livingstone, Sydney Australia.

Sandall J. 2010. A Report: The Contribution of Continuity of Midwifery Care to High Quality Maternity Care. The Royal College of Midwives, UK.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s