PERAMBUAN IMUNISASI, METODE STRATEGIS GUNA MENINGKATKAN CAKUPAN IMUNISASI DASAR PADA BAYI

Posted on

Oleh: Gita Kostania

Original Artikel: Strategi Pemberian Imunisasi Dasar pada Bayi di Desa Nglebak Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar tahun 2013 (oleh: K.Thaif, Supiati, G.Kostania).
Dipublikasikan pada: Jurnal Kebidanan Indonesia, Vol.5 No.2, Juli 2014, dan dapat diakses pada laman:
http://jurnal.akbid-mu.ac.id/index.php/jurnalmus/issue/view/20/showToc.

*******

Angka kematian bayi merupakan salah satu indikator penting dalam menentukan kesejahteraan suatu bangsa. Oleh sebab itu, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, menyusun program-program untuk menekan angka kematian bayi. Upaya pemerintah dalam kesehatan bayi dan anak ditujukan untuk mempersiapkan generasi akan datang yang sehat, cerdas dan berkualitas serta untuk menurunkan angka kematian balita sesuai dengan program organisasi dunia, World Health Organisation (WHO). Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan program imunisasi pada bayi. Program imunisasi merupakan salah satu teknologi yang sangat efektif dalam mencegah terjadinya Penyakit yang dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I), yang secara langsung berhubungan dengan penurunan angka kematian bayi dan balita. Penyakit yang dapat dicegah dengan Imunisasi di Indonesia baru tujuh macam yang diupayakan dengan program imunisasi pada bayi, yaitu penyakit Dipteri, Pertusis, Tetanus, Tuberkulosis, Campak, Poliomielitis, dan Hepatitis B. (Dep Kes RI,2009)
Tujuan imunisasi adalah diharapkan anak menjadi kebal terhadap penyakit, sehingga dapat menurunkan angka morbiditas serta dapat mengurangi kecacatan akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, serta tercapainya kekebalan komunitas. Hal ini dapat terwujud apabila lebih dari 80% bayi di suatu wilayah telah memperoleh imunisasi dasar lengkap atau terwujudnya Universal Child Immunization (UCI) sampai tingkat desa dan dengan mutu program yang tinggi. Target pencapaian UCI didukung oleh Standar Pencapaian Minimum (SPM) dari program imunisasi yaitu 95 % dari sasaran bayi (Dep Kes RI 2012).
Berdasarkan uji coba yang telah dilakukan oleh seorang bidan desa di wilayah Puskesmas kecamatan Tawangmangu kabupaten Karanganyar untuk meningkatkan UCI adalah dengan penggunaan metode Perambuan Imunisasi. Metode ini dinilai efektif dalam meningkatkan cakupan imunisasi secara keseluruhan di wilayah tersebut. Perambuan imunisasi merupakan suatu metode yang berupa alat bantu dalam memantau ketepatan waktu dan kelengkapan imunisasi dalam pemberian imunisasi bagi sasaran.
Perambuan imunisasi disusun dalam bentuk kartu bergambar yang dibuat rangkap dua, satu diberikan kepada kader untuk dimasukan dalam kantong imunisasi di Posyandu dengan tujuan sebagai alat bantu untuk mengingatkan sasaran orangtua bayi dalam memantau ketepatan waktu pemberian imunisasi dan kelengkapan pemberian imunisasi pada setiap sasaran di Posyandu tersebut, dan satu kartu yang lain dimasukkan dalam “kantong imunisasi” di Pos Kesehatan Desa (PKD) desa setempat untuk mempermudah bidan memantau sasaran dan merencanakan jumlah pengeluaran anggaran vaksin. Bentuk dan model kantong sasaran imunisasi sama dengan kantong persalinan, bersifat dinamis dan dibuat kantong sebanyak 12 buah sebagai perencanaan bulanan selama setahun.
Alat bantu perambuan imunisasi ini berbentuk kartu bergambar seorang anak membawa balon sejumlah 4 buah. Warna dari kartu perambuan itu dibedakan antara anak laki-laki dan anak perempuan. Warna biru untuk anak laki-laki dan warna merah muda untuk anak perempuan. Kartu perambuan bergambar tersebut mempunyai arti, jika gambar telah penuh diwarnai artinya sasaran sudah lengkap imunisasinya. Pewarnaan disesuaikan oleh jenis pemberian imunisasi yang telah didapatkan oleh sasaran (warna sudah ditentukan di dalam gambar tersebut), untuk waktu pemberian dicatat di belakang kartu. Pewarnaan dilakukan oleh kader di Posyandu sedangkan di PKD oleh bidan wilayah.
Gambar pada perambuan imunisasi adalah seorang anak berpakaian lengkap membawa balon 4 buah mempunyai arti sebagai berikut:
1. Untuk pemberian imunisasi BCG pewarnaan pada baju lengan kanan dengan warna merah.
2. Untuk pemberian imunisasi Campak pewarnaan pada baju lengan kiri dengan warna merah.
3. Untuk imunisasi HB0 pewarnaan pada baju bagian dada dengan warna hitam.
4. Untuk imunisasi DPT-HB I pewarnaan pada rok untuk sasaran perempuan atau celana pendek untuk sasaran laki – laki dengan warna hitam.
5. Untuk imunisasi DPT-HB II pewarnaan pada kaos kaki dengan warna merah.
6. Untuk imunisasi DPT-HB III pewarnaan pada sepatu dengan warna hitam.
7. Untuk imunisasi polio 1 sampai 4, pewarnaan pada balon pertama warna merah untuk polio I, balon kedua warna kuning untuk polio II, balon ketiga warna hijau untuk polio III dan balon keempat warna biru untuk polio IV.

Gb.1

Kartu Perambuan Co1

Gb.2

Kartu Perambuan Ce1

Gb.3

Kartu Perambuan-Warna

Gambar 1, 2 dan 3: Kartu Perambuan Imunisasi pada Anak Laki-Laki dan Perempuan

Suatu kebijakan yang merupakan salah satu strategi untuk mendukung program ini adalah dengan upaya bidan dalam kerjasama lintas program dan lintas sektor, melalui Dinas pendidikan dan Kebudayaan. Kebijakan dan strateginya adalah dengan memberikan sertifikat untuk bayi yang sudah lengkap pemberian imunisasinya. Sertifikat ini juga merupakan salah satu syarat untuk masuk sekolah PAUD.
Manfaat penggunaan alat bantu perambuan imunisasi diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Manfaat bagi bidan wilayah
a. Sebagai alat bantu pengerjaan Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) imunisasi, yaitu memantau sasaran secara dinamis, sama fungsinya seperti kantong persalinan, guna memantau ketepatan waktu dan kelengkapan pemberian imunisasi. Hal ini berdasarkan peraturan pemerintah pada Peraturan MenKes RI No 741/MenKes/Per/VII/ 2008, bahwasanya strategi bidan dalam memantau sasaran adalah membuat PWS imunisasi.
b. Mempermudah dalam merencanakan anggaran vaksin pada setiap pelayanan, sehingga vaksin tidak terbuang percuma. Hal ini juga merupakan wujud dari pelayanan bermutu.
c. Mempermudah bidan wilayah mengetahui adanya penolakan bagi sasaran, sehingga dapat ditindaklanjuti dengan segera baik dari kepala Puskesmas maupun kepala desa, atau unit yang lain. Hal ini merupakan salah satu bentuk kerja sama lintas program maupun lintas sektoral.
d. Mendekatkan pelayanan di PKD bagi sasaran yang jarak lokasi tempat tinggalnya jauh dari Puskesmas.
2. Manfaat bagi kader Posyandu
Peran kader kesehatan merupakan bentuk peran serta aktif masyarakat dalam pelayanan terpadu. Peranan kader dalam meningkatkan pemberian imunisasi dasar pada bayi adalah dengan melakukan kegiatan di Posyandu seperti pencatatan, pelaporan, penyuluhan dan kunjungan rumah sasaran. Manfaat perambuan bagi kader adalah :
a. Memudahkan kader Posyandu dalam memantau ketepatan jadwal pemberian imunisasi dan kelengkapan jenis imunisasi bagi sasaran imunisasi.
b. Mempermudah kader Posyandu dalam meberikan penjelasan kepada orangtua sasaran tentang waktu pemberian imunisasi.
3. Manfaat bagi orangtua bayi
a. Sebagai media untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pemberian imunisasi pada bayi.
b. Meningkatkan kesadaran dan motivasi orang tua, sehingga masyarakat berpartisipasi aktif dalam upaya meningkatkan cakupan imunisasi.
c. Pemberian imunisasi anak tepat waktu dan sesuai jadwal, sehingga dapat mengoptimalkan perlindungan terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.

*******

NB: Bagi Pembaca yang tertarik dengan bahasan ini, dan ingin mengetahui lebih lanjut tentang metode Perambuan Imunisasi, dapat menghubungi admin lewat surel: oshigita@gmail.com. Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s