Keluhan Hiperventilasi (Sesak Nafas) pada Ibu Hamil

Posted on Updated on

Oleh: Gita Kostania

sesak nafas

Hiperventilasi ditandai dengan nafas yang cepat dan keluhan sesak nafas, pada ibu hamil hal ini merupakan reaksi yang fisiologis (non patologis). Hiperventilasi disebabkan oleh peningkatan hormone progesterone selama kehamilan, berakibat langsung pada sistem pernafasan dimana kadar karbon dioksida berada pada kadar yang rendah dan oksigen berada pada kadar yang tinggi. Peningkatan kadar oksigen yang tinggi bermanfaat bagi janin. Peningkatan metabolisme yang terjadi selama kehamilan menyebabkan peningkatan kadar karbon dioksida, terjadinya hiperventilasi berdampak pada berkurangnya kadar karbon dioksida dalam darah. Ibu hamil dapat mulai merasakan efek progesterone ini pada awal trimester kedua.

Keluhan sesak nafas merupakan suatu ketidaknyamanan yang semakin berat dirasakan ibu hamil pada trimester ketiga. Selama periode ini, uterus semakin membesar dan menekan diafragma. Oleh sebab itu, diafragma bergeser (berelevasi) kira-kira 4 cm selama kehamilan. Meskipun pelebaran diameter transversal dari rongga dada (thoraks) hanya beberapa cm, namun hal ini cukup mengganti pergeseran diafragma dan mengurangi fungsi kapasitas residual dan volume residual udara. Kombinasi penggunaan tekanan pada diafragma (memungkinkan penurunan fungsi volume residual) menyebabkan sedikit kesulitan dalam bernafas (nafas sesak). Pada beberapa ibu hamil, merespon keadaan fisiologis ini dengan hiperventilasi.

Untuk mengatasi hiperventilasi maka dapat diatasi dengan: a) penjelasan pada ibu hamil tentang keadaan fisiologis hal ini; b) menasehati ibu hamil untuk dengan sengaja secara berhati-hati mengatur pernafasannya (kecepatan dan kedalaman) dalam kondisi normal ketika ibu menyadari terjadinya hiperventilasi; c) meringnkan gejala sesak nafas sebagai faktor akibat, dijelaskan pada paragraph selanjutnya.

Upaya untuk mengatasi keluhan sesak nafas adalah dengan menyediakan ruang yang cukup untuk isi abdomen dan thoraks, dengan mengurangi tekanan pada diafragma dan memfasilitasi fungsi paru-paru, yaitu: a) secara periodic anjurkan ibu hamil untuk berdiri dan melakukan gerakan peregangan pada tangannya ke atas kepala disertai menarik nafas panjang; b) menganjurkan ibu hamil untuk membiasakan diri dengan postur tubuh yang baik dan hindari membungkukkan badan (badan selalu tegak); c) ajari ibu hamil untuk melakukan pernafasan intercostal; d) ajarkan ibu hamil untuk melakukan peregangan yang sama saat duduk/berdiri dengan ketika berbaring di tempat tidur; e) jelaskan terjadinya nafas sesak, kecemasan atau ketakutan dapat mengurangi respon terhadap hiperventilasi.

Referensi:

  1. Bobak, Lowdermilk, Jensen (Alih bahasa: Wijayarini, Anugerah). 2005. Buku Ajar Keperawatan Maternitas, edisi 4. EGC, Jakarta.
  2. Fraser, Cooper (Alih bahasa: Rahayu, et.al.). 2009. Myles, Buku Ajar Bidan, edisi 14. EGC, Jakarta.
  3. Varney. 1997. Varney’s Midwifery, 3rd Edition. Jones and Bartlett Publishers, London UK.
  4. Varney, Kriebs, Gegor. 2002. Buku Ajar Asuhan Kebidanan, Edisi 4, Volume 1. EGC, Jakarta.

Bagian dari postingan sebelumnya

Baca juga:

http://www.health-and-parenting.com/shortness-of-breath-in-pregnancy/

http://labspace.open.ac.uk/mod/oucontent/view.php?id=452206&section=9.8

9 thoughts on “Keluhan Hiperventilasi (Sesak Nafas) pada Ibu Hamil

    oshigita responded:
    22 Februari 2016 pukul 11:07 am

    nampaknya tidak ada kaitannya dg bekas operasinya bunda…. sesegnya kan karena rongga dada terdesak pembesaran rahimnya…

    Suka

    argia said:
    13 Januari 2016 pukul 4:36 pm

    kalau masih hiperventilasi setelah melahirkan (cesar) kira kira kenapa ya? setahun yg lalu saat hamil trimester akhir mulai hiperventilasi, dan sampai sekarang tidak hilang. Sudah kedokter spesialis saat darurat dites semua lab, USG, endoskopi, bagus, diagnosanya asam lambung. apakah ada kaitannya dgn fisiologis diafgrama?

    Suka

    oshigita responded:
    4 Mei 2015 pukul 10:35 am

    Keluhan sesak nafas yg dialami pada trimester 3 (usia kehamilan >24 mg) adalah suatu hal yang fisiologis/normal, karena pembesaran rahim. Hal tersebut tidak bahaya bunda…. cara mengatasinya sudah sy cantumkan di artikel tersebut. Bunda tidak usah khawatir, hal tersebut terjadi sebagai respon untuk janin bunda.

    Suka

    oshigita responded:
    4 Mei 2015 pukul 10:35 am

    Adapun tentang mimisan, saya jelaskan sbb:
    Mimisan (epistaksis) dapat terjadi pada ibu hamil yang sensitif. Hal tsb terjadi pada ibu hamil dengan kelainan-kelainan struktur tulang daerah hidung, misalnya tulangnya miring atau mukosanya (lapisan kulit dalam) miring. Mimisan dapat juga terjadi karena peningkatan volume darah selama hamil; peningkatan kadar hormon progesteron, sehingga otot-otot polos (pembuluh darah) akan mengalami relaksasi yang berlebihan yg menyebabkan melebarnya pembuluh darah di daerah hidung.
    Hidung adalah daerah yang sensitif, sehingga perubahan tekanan, suhu atau bersin dapat menyebabkan pembuluh darah di sekitar hidung pecah yang kemudian bisa menutup lagi.
    Mimisan dapat terjadi pada akhir TM 1 atau awal TM 2, mungkin berlanjut hingga melahirkan.
    Bunda, mimisan tidak berpengaruh negatif terhadap janin, hanya sedikit mengganggu kenyamanan. Mimisan juga tidak disebabkan karena konsumsi makanan atau minuman tertentu. Namun, mimisan dapat terjadi karena kekurangan vitamin C, dimana vit.C berguna sebagai antioksidan untuk jaringan ikat (salah satunya untuk jaringan otot-otot pembuluh darah).
    Untuk mencegah terjadinya mimisan: Hindari faktor pencetus alergi; Cukup mengkonsumsi vitamin C; Jangan terlalu lama berada di bawah sinar matahari (berpanas-panasan) –> mimisan dapat timbul tiba-tiba tanpa gejala; Cukup istirahat dan Meningkatkan konsumsi cairan.
    Adapun cara mengatasi terjadinya mimisan adalah: Hindari perlukaan pada hidung, jangan menyumpal kedua lubang hidung dengan benda apapun termasuk tisu; Jika perlu gunakan tetes hidung; Tekan kedua lubang hidung dengan ibu jari dan telunjuk selama beberapa menit; Kompres dengan air dingin, air dingin membuat pembuluh darah di sekitar hidung mengerut, hal ini dilakukan agar perdarahan yang sedang terjadi berhenti; dan Hindari posisi berbaring ataupun mendongakkan kepala karena darah dapat masuk ke saluran pernapasan.
    Demikian bunda, semoga bermanfaat.

    Suka

    oshigita responded:
    27 April 2015 pukul 10:09 pm

    Adapun tentang mimisan, saya jelaskan sbb:
    Mimisan (epistaksis) dapat terjadi pada ibu hamil yang sensitif. Hal tsb terjadi pada ibu hamil dengan kelainan-kelainan struktur tulang daerah hidung, misalnya tulangnya miring atau mukosanya (lapisan kulit dalam) miring. Mimisan dapat juga terjadi karena peningkatan volume darah selama hamil; peningkatan kadar hormon progesteron, sehingga otot-otot polos (pembuluh darah) akan mengalami relaksasi yang berlebihan yg menyebabkan melebarnya pembuluh darah di daerah hidung.
    Hidung adalah daerah yang sensitif, sehingga perubahan tekanan, suhu atau bersin dapat menyebabkan pembuluh darah di sekitar hidung pecah yang kemudian bisa menutup lagi.
    Mimisan dapat terjadi pada akhir TM 1 atau awal TM 2, mungkin berlanjut hingga melahirkan.
    Bunda, mimisan tidak berpengaruh negatif terhadap janin, hanya sedikit mengganggu kenyamanan. Mimisan juga tidak disebabkan karena konsumsi makanan atau minuman tertentu. Namun, mimisan dapat terjadi karena kekurangan vitamin C, dimana vit.C berguna sebagai antioksidan untuk jaringan ikat (salah satunya untuk jaringan otot-otot pembuluh darah).
    Untuk mencegah terjadinya mimisan: Hindari faktor pencetus alergi; Cukup mengkonsumsi vitamin C; Jangan terlalu lama berada di bawah sinar matahari (berpanas-panasan) –> mimisan dapat timbul tiba-tiba tanpa gejala; Cukup istirahat dan Meningkatkan konsumsi cairan.
    Adapun cara mengatasi terjadinya mimisan adalah: Hindari perlukaan pada hidung, jangan menyumpal kedua lubang hidung dengan benda apapun termasuk tisu; Jika perlu gunakan tetes hidung; Tekan kedua lubang hidung dengan ibu jari dan telunjuk selama beberapa menit; Kompres dengan air dingin, air dingin membuat pembuluh darah di sekitar hidung mengerut, hal ini dilakukan agar perdarahan yang sedang terjadi berhenti; dan Hindari posisi berbaring ataupun mendongakkan kepala karena darah dapat masuk ke saluran pernapasan.
    Demikian bunda, semoga bermanfaat.

    Suka

    oshigita responded:
    27 April 2015 pukul 10:01 pm

    Keluhan sesak nafas yg dialami pada trimester 3 (usia kehamilan >24 mg) adalah suatu hal yang fisiologis/normal, karena pembesaran rahim. Hal tersebut tidak bahaya bunda…. cara mengatasinya sudah sy cantumkan di artikel tersebut. Bunda tidak usah khawatir, hal tersebut terjadi sebagai respon untuk janin bunda.

    Suka

    bulu perindu said:
    23 April 2015 pukul 1:26 pm

    Saya ngalamin pas usia kehamilan trimester 3. Bahaya nggak ya

    Suka

    bubur kacang hijau said:
    23 April 2015 pukul 1:17 pm

    aku ngalamin mimisan saat hamil. Cara ngatasinnya gimana ya?

    Suka

    […] Hiperventilasi (Sesak Nafas) […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s