IDENTIFIKASI MASALAH KEBIDANAN DI KOMUNITAS

Posted on Updated on

8267.midwifery

Sebagai seorang bidan yang bekerja di komunitas, harus mengetahui dan memahami beberapa pokok permasalahan yang terjadi di komunitas, diantaranya :

  1. Kematian ibu dan bayi
  2. Kehamilan remaja
  3. Unsafe abortion
  4. Angka kejadian BBLR
  5. Tingkat kesuburan PUS
  6. Pertolongan persalinan oleh tenaga non kesehatan
  7. Infeksi Menular Seksual (IMS) pada masyarakat
  8. Perilaku dan social budaya yang berpengaruh pada pelayanan kebidanan komunitas.

Dengan mengetahui dan memahami masalah-masalah di atas, diharapkan bidan dapat berkontribusi dalam upaya pemecahan masalah tersebut. Lebih lanjut, akan dibahas satu persatu.

KEMATIAN IBU DAN BAYI

Kematian ibu adalah kematian yang terjadi pada ibu selama masa kehamilan atau dalam 42 hari setelah berakhirnya kehamilan, tanpa melihat usia dan lokasi kehamilan, oleh setiap penyebab yang berhubungan dengan atau diperberat oleh kehamilan atau penanganannya tetapi bukan oleh kecelakaan atau incidental (faktor kebetulan). (Depkes RI, 2009).

Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan tolak ukur keberhasilan kesehatan ibu, yang manjadi indikator terpenting untuk menilai kualitas pelayanan obstetri dan ginekologi di suatu wilayah. Menurut SDKI tahun 2007, AKI di Indonesia tahun 2007 sebesar 248/100.000 kelahiran hidup. Jika dibandingkan dengan AKI menurut SDKI tahun 2003 sebesar 307/100.000 kelahiran hidup, AKI tersebut sudah jauh menurun, namun masih jauh dari target MDGs 2015 yaitu sebesar 102/100.000 kelahiran hidup. Sehingga masih memerlukan kerja keras dari semua komponen untuk mencapai target tersebut. Bidan sebagai tenaga kesehatan dalam tatanan pelayanan kebidanan komunitas di lini terdepan, mempunyai peranan penting dalam penurunan AKI yang dinilai masih tinggi.

Angka kematian ibu dikatakan masih tinggi karena :

  1. Jumlah kematian ibu yang meninggal mulai saat hamil hingga 6 minggu setelah persalinan per 100.000 persalinan tinggi
  2. Angka kematian ibu tinggi adalah angka kematian yang melebihi dari angka target nasional
  3. Tingginya angka kematian, berarti rendahnya standar kesehatan dan kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan, dan mencerminkan besarnya masalah kesehatan.

Berdasarkan penyebabnya, kematian ibu dibedakan menjadi 2 penyebab, yaitu penyebab langsung dan penyebab tidak langsung.

Kematian bayi adalah kematian yang terjadi saat setelah bayi lahir sampai bayi belum berusia tepat 1 tahun (Depkes RI, 2009). Menurut SDKI tahun 2003, AKB sebesar 35/1000 kelahiran hidup. Sedangkan berdasarkan perhitungan BPS tahun 2007 sebesar 27/1000 kelahiran hidup. Adapun target AKB pada MDG’s 2015 sebesar 17/1000 kelahiran hidup. Penyebab kematian bayi meliputi : Gangguan perinatal (34,7%), Sistim pernapasan (27,6 %), Diare (9,4%), Sistim pencernaan (4,3%) dan Tetanus (3,4%).

Untuk mencegah terjadinya kematian bayi, maka beberapa upaya yang dapat dilakukan yaitu :

  1. Peningkatan kegiatan imunisasi pada bayi
  2. Peningkatan ASI eksklusif, status gizi, deteksi dini dan pemantauan tumbuh kembang
  3. Pencegahan dan pengobatan penyakit infeksi
  4. Program manajemen tumbuh kembang balita sakit dan manajemen tumbuh kembang balita muda
  5. Pertolongan persalinan dan penatalaksanaan BBL dengan tepat
  6. Program asuh
  7. Keberadaan bidan desa
  8. Perawatan neonatal dasar, meliputi perawatan tali pusat, pencegahan hipotermi dengan metode kanguru, menyusui dini, usaha bernafas spontan, pencegahan infeksi, penanganan neonatal sakit, audit kematian neonatal.

KEHAMILAN REMAJA

UNSAFE ABORTION

BBLR

BBLR adalah neonatus dengan berat badan lahir pada saat lahir (yang diukur dalam 1 jam setelah lahir) kurang dari 2500 gram, tanpa memandang usia kehamilan. (Depkes RI, 1999)

Menurut Saifudin, dkk (2000), berkaitan dengan penanganan dan harapan hidup bayi, BBLR diklasifikasikan menjadi :

  1. Bayi berat lahir rendah (BBLR) à berat lahir 1500 – 2500 gram
  2. Bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR) à berat lahir < 1500 gram
  3. Bayi baru lahir ekstrem rendah (BBLER) à berat lahir < 1000 gram

Bayi dengan berat badan lahir rendah, akan mengalami beberapa masalah diantaranya: Asfiksia, Gangguan nafas, Hipotermi, Hipoglikemi, Masalah pemberian ASI, Infeksi, Ikterus dan Masalah perdarahan.

Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya BBLR adalah :

  1. Upayakan ANC yang berkualitas, segera lakukan rujukan apabila ditemukan kelainan
  2. Meningkatkan gizi masyarakat
  3. Tingkatkan penerimaan gerakan KB
  4. Tingkatkan kerjasama dengan dukun paraji

TINGKAT KESUBURAN

Tingkat kesuburan seseorang memegang peranan yang sangat penting bagi pasangan suami istri. Tingkat kesuburan dibedakan menjadi fertilitas/kesuburan dan infertilitas/ketidaksuburan. Tingkat kesuburan dapat menjadi masalah yang serius dalam tatanan komunitas. Untuk itu bidan di komunitas harus mampu mengenal masalah kesuburan dan ketidaksuburan pada pasangan suami istri.

PERTOLONGAN PERSALINAN OLEH TENAGA NON KESEHATAN

Dalam tatanan masyarakat yang masih memegang tradisi adat, dukun masih memegang peranan yang sangat penting. Pertolongan persalinan oleh tenaga non kesehatan yaitu proses persalinan yang dibantu oleh tenaga non kesehatan yang biasa disebut dukun paraji. Adanya asumsi pada masyarakat kita bahwa melahirkan di dukun mudah dan murah, merupakan salah satu penyebab terjadinya pertolongan persalinan oleh tenaga non kesehatan.

INFEKSI MENULAR SEKSUAL

Infeksi menular seksual merupakan salah satu dari tiga tipe infeksi saluran reproduksi (ISR), yaitu infeksi dan penyakit menular seksual, infeksi-infeksi endogen vagina dan infeksi-infeksi yang berhubungan dengan saluran reproduksi.

Infeksi menular seksual berhubungan dengan keadaan akut, kronik dan kondisi-kondisi lain yang berhubungan dengan kehamilan, seperti Gonore, Chlamidya, Sifilis, Herpes kelamin, Hepatitis, Kutil HPV kelamin, Trichomoniasis, HIV/AIDS.

Infeksi endogen vagina meliputi Vaginosis bacterial dan Candidiasis, keduanya merupakan hasil dari pertumbuhan berlebihan dari organisme-organisme yang secara normal memang ada di vagina. Infeksi berhubungan dengan prosedur dapat meliputi saluran reproduksi atas dan bawah, serta dapat mengebabkan komplikasi-komplikasi jangka panjang karna infertile.

Bidan harus dapat memberikan asuhan kepada masyarakat terkait dengan infeksi menular seksual, dan perlu memperhatikan semua jenis infeksi saluran reproduksi, sehingga dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal.

PERILAKU SOSIAL-BUDAYA

Sumber Belajar :

Varney H. 1997. Varney Midwifery. London: Jones&Barlet Publisher.

Linda V Walsh. 2001. Midwivery Community Based Care. Philadelpia: WB Saunders Company.

Syafrudin. 2009. Kebidanan Komunitas. Jakarta: EGC.

Yulifah, Rita. 2009. Asuhan Kebidanan Komunitas. Jakarta: Salemba Medika.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s